Mulai tanggal 10 September sampai 16 September 2012 tengah berlangsung perhelatan akbar di Sipoholon, Tarutung. Muktamar salah satu gereja terbesar di Indonesia ini disebut ‘Sinode Godang’. Para peserta sinode adalah para pendeta dan utusan jemaat gereja yang beranggota kurang lebih 4 juta orang diagendakan membahas banyak soal, mulai dari yang penting sampai yang tidak terlalu penting. Tetapi yang paling menarik lazimnya adalah pemilihan pimpinan yang digelari Ephorus. Berbeda dengan Ephorus yang dipilih di Sipoholon, di dunia internet telah berlangsung penobatan ‘Ephorus virtual’. Ephorus virtual atau ephorus internet adalah seorang pendeta suatu jemaat HKBP yang juga aktif menjalankan fungsi kependetaan melalui jejaring sosial.

Dia seorang blogger bernama DTA. (link nya rumametmet.com ). Tulisan-tulisan DTA ramai dikunjungi para netter karena rupanya cukup menarik, hangat, tajam dan terbuka. Pengamatan saya DTA adalah satu-satunya pendeta HKBP yang memiliki blog yang terpelihara (start 2006).  Bahkan tidak mustahil mayoritas pendeta tidak memiliki e-mail alias ‘gaptek’. (Lucunya, malah ada yang setengah “bangga” mengakui dirinya ‘gaptek’, seakan-akan teknologi komunikasi tidak penting dan cukup komunikasi dari mimbar). DTA berbeda. Selain tulisan-tulisan berupa kotbah, DTA juga sajikan pengalamannya sehari-hari bersama jemaat sebagai pendeta. Tulisannya mulai dari yang lucu ringan sampai yang kritis dan tajam disajikan dengan sikap jujur. Penampilannya berjanggut dan rambut gondrong keperakan agaknya seolah ingin menegaskan dirinya tidak berada pada jalur mainstream. Tapi progresif alternatif.

Belakangan, sehabis puncak Perayaan Jubileum HKBP 150 tahun di Gelora Bung Karno, – yang menurut saya adalah anti-klimaks – DTA meluncurkan tulisan yang bikin heboh berjudul “Muba manang mago – Tawaran 8 agenda Transformasi HKBP” (download Mubamanang mago ). Judulnya “muba manang mago”, kurang lebih artinya ‘berobah atau hancur’ langsung menohok ulu hati banyak pihak. Termasuk pimpinan petahana (incumbent). Apalagi di ujung tulisannya DTA terang-terangan menyatakan bersedia dicalonkan sebagai Ephorus. ‘Ephorus virtual’ kini mau jadi ‘ephorus real’! Ini cara pencalonan yang tidak biasa. Tidak sesuai dengan ‘Aturan dan Peraturan’, kata yang lain. Ada lagi yang beralasan, DTA ‘masih terlalu muda’..sabar sedikit. Tanggapan yang cukup realistis mungkin, “Apakah DTA punya ‘investor’?.. Kalau tidak, lupakan saja”. (Ini tidak aneh karena beberapa tahun lalu, saya ketahui dalam suatu sinode salah satu gereja di Sumatera Utara, seorang bandar judi berlaku sebagai investor telah cukup mempengaruhi para peserta agar memilih seorang pimpinan tertentu, dan selanjutnya sang bandar didoakan agar selalu diberkati Tuhan dan sehat-sehat).

Delapan agenda DTA tersebut perlu kiranya disimak juga sbb :

1. Pembaharuan karakter, kompetensi, dan kesejahteraan pelayan
2. Pembaharuan kotbah dan ibadah
3. Pembaharuan sekolah minggu
4. Pembaharuan diakonia dan pekabaran injil
5. Pembaharuan hubungan gereja dan budaya Batak
6. Pembaharuan hubungan gereja dan politik
7. Pembaharuan Aturan dan sistem organisasi
8. Pembaharuan sistem keuangan dan persembahan.

Sebenarnya kedelapan agenda diatas masih bisa diringkas menjadi 2 bagian :
1. Internal : termasuk disini angka 1, 2, 3, 7 dan 8
2. Eksternal : 4, 5 dan 6.

Saya duga masalah internal apalagi agenda soal keuangan kalau mau dibahas akan cukup hangat. Dan ini merupakan soal penting, bagi pelayan dan jemaat. Hemat saya agenda 5 dan 6 pada pokoknya adalah hubungan antara gereja dan kebudayaan. Kebudayaan dalam arti seluasnya, bukan hanya budaya Batak, apalagi cuma adat istiadat Batak. Penting disini dirumuskan sikap gereja soal pluralisme. Untuk soal ini saya lihat DTA bukan termasuk aliran progresif alternatif, tapi konservatif, khas pendeta HKBP. Maka pendidikan teologi di Sekolah Tinggi Teologi HKBP juga harus benar-benar menjawab kebutuhan masa depan. Teologi tidak lagi berkisar pada Barthian.

Tentu tidak tempatnya disini membahas agenda diatas secara rinci, cuma yang mau disampaikan adalah gagasan-gagasan ini perlu untuk dibicarakan. Proses pembahasan sinode perlu diketahui jemaat, tidak hanya mengetahui hasilnya dalam pembacaan warta jemaat. Sudah saatnya warga boleh mengikuti jalannya sinode meski tidak secara langsung. Segala kritik yang membangun ataupun membongkar hendaknya diterima dengan baik. Karena kritik dan kecaman adalah pilar sejarah gereja. Gereja yang hidup selalu memperbaiki dirinya, mereformasi dirinya (Ecclesia semper per reformanda, kata Paman Martin). Setiap hari panitia bisa mendiseminasi informasi melalui internet atau jejaring sosial secara singkat.

Pemilihan Ephorus dan Sekretaris Jenderal (sebaiknya diganti dengan istilah Sekretaris Umum saja), kita harapkan berakhir dengan elegan. Jemaat berharap pemilihan berlangsung tanpa adanya intervensi kekuasaan apalagi ‘politik uang’. Jangan berujung pada mutasi-mutasi dan degradasi. Calon yang tak terpilih tidak sakit hati dan tidak disakiti hatinya dengan menempatkan pos nya jauh-jauh. Para pendeta senior yang cukup makan asam garam dalam organisasi dan jemaat, apabila masih mampu bekerja kiranya patut diberi jabatan yang pantas. (penting dipertimbangkan adanya badan penasehat ephorus). Para pemimpin terpilih harus benar-benar mampu menjawab tantangan gereja ke depan yang semakin berat. Selamat bersinode.

Post scriptum:
DTA adalah Pendeta Daniel Taruli Asi Harahap, terakhir melayani di Serpong. DTA bukan friend saya di facebook atau jejaring sosial lainnya. Saya tidak kenal, tidak pernah bertemu dengan DTA secara personal dan saya bukan ‘tim sukses’. Saya hanya anggota jemaat kecil di pinggiran kota dan tidak memegang satu jabatan gereja apapun.

Ama ni Pardomuan