Dalam silsilah mitos, moyang orang Batak, Si Raja Batak mempunyai dua putra, Tatea Bulan (Ilontungan) dan Isumbaon (Sumba). Belahan Tatea Bulan dan Isumbaon juga menunjukkan adanya distribusi kekuasaan. Mulajadi na bolon turun ke Pusuk Buhit lalu menyerahkan dua pustaha (kitab kulit kayu), pertama ‘Pustaha Agong’ berisikan petunjuk-petunjuk kerohanian, kebatinan dan hadatuan (ilmu magic dan pengobatan) diserahkan kepada Tatea Bulan, dan Pustaha kedua adalah ‘Pustaha Tumbaga’ merupakan pedoman pemerintahan diwariskan kepada Isumbaon. Dengan perkataan lain, Tatea Bulan memiliki kekuasaan religius/keagamaan dan Isumbaon memegang kekuasaan sekuler/keduniawian. Dalam perkembangannya pembagian ini tidak terkait lagi dengan kelompok marga yang merujuk tortorpada marga-marga asalnya, Tatea Bulan dan Sumba, karena kelompok marga Tatea Bulan dapat memegang soal sekuler dan sebaliknya marga-marga dari Isumbaon boleh juga memegang kekuasaan religius. Kekuasaan sekuler adalah penyelenggaraan kekuasaan sehari-hari yang dijalankan oleh kepala-kepala sekuler (raja huta/horja dan dewan bius) sedang kekuasaan religius/spiritual oleh kelompok pendeta (parbaringin). Tetapi dari mitos jelas asal-usulnya adalah dari pengertian dua belahan yang disimbolkan dengan tanduk kepala kerbau.

Kepala-kepala sekuler (raja huta) memegang kekuasaan sehari-hari di wilayah desa (huta) kekuasaannya. Dia melaksanakan pemerintahan, membagi tanah garapan untuk keperluan warga desa, menyelesaikan perselisihan kecil antar warga, menentukan batas dimana ternak (kerbau) boleh merumput, dsb. Dalam urusan pesta keagamaan, parbaringin yang juga adalah warga desa melaksanakan perannya. Parbaringin menentukan dan memimpin upacara – upacara tahunan, menentunkan hari kapan mulai kesawah dan kapan memanen, memberi petunjuk-petunjuk kepada raja huta dalam pelaksanaan kekuasaannya.
Dalam pemahaman orang Batak kekuasaan selalu terkait dengan ‘sahala’. Arti sahala sulit diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, tetapi Andar Lumbantobing mencoba mensejajarkannya dengan pengertian ‘manna’ dalam kebudayaan Polinesia. Sahala kurang lebih diterjemahkan sebagai ‘wibawa’ yang melekat pada seseorang, bahkan sampai ia mati sahalanya tetap hidup. Jadi dalam konteks kekuasaan maka para pejabat sekuler dan pejabat adalah orang yang menerima dan memiliki sahala dari Mulajadi. Ada kalanya, kelompok pengambil isteri (boru) memohon sahala dari kelompok pemberi isteri (hula-hula) . Jadi bagi boru, hula-hula juga sumber sahala dari mulajadi. Sahala bisa juga bertambah dengan kekayaan dan banyaknya keturunan serta umur panjang. Ketika dilangsungkan upacara kematian seseorang yang telah uzur dan beranak pinak, maka keturunannya ‘mangondasi’ , meletakkan tangannya berulang-ulang diatas mayat dan menarik- narik kedadanya. Tujuannya adalah agar sahala orang yang meninggal bisa berpindah padanya. (ama pardomuan)