Toba adalah istilah asli yang panaluanlebih tua dari Tapanuli. Istilah Tapanuli berasal dari kata ‘tapian nauli’, tempat pemandian yang indah sebagaimana disebut orang-orang Batak Toba yang datang dari lembah Silindung. Orang Silindung datang kesana pada abad 17 mencari tanah untuk digarap. Pancuran besar berair jernih terletak disebuah desa di muara sungai yang mengalir dari hulu tebing Bukit Barisan ke teluk di Samudera Indonesia. Barus, Sorkam dan Tapian Nauli di pantai barat Sumatera adalah jendela orang Batak dari pedalaman Toba ke dunia luar, ‘tano jau’. Mereka berdagang membawa kemenyan, kapur barus, hasil bumi dan lain lain selanjutnya membeli barang-barang

yang diperlukan dipedalaman Toba antara lain, kain, garam dan barang-barang besi/logam. Pelabuhan Barus adalah pusat perdagangan internasional dan ramai dikunjungi kapal-kapal asing. Tidak jauh dari Barus, dusun Tapanuli disinggahi kapal-kapal di teluknya untuk mengambil air minum. Pada abad 18 Inggeris mulai mendirikan pos perdagangan disebuah pulau kecil (pulau Poncan Ketek) di mulut teluk. Sebelumnya sudah ada pos Inggeris di Bengkulu dengan Gubernur Sir Thomas Stamford Raffles. Teluk itu kemudian oleh Inggeris disebut Bay of Tappanuly, Teluk Tapanuli. Kemudian perebutan hegemoni maritim antara Inggeris dan Belanda berakhir dengan Perjanjian London tahun 1824. Mereka membagi wilayah koloni. Inggeris memperoleh Semenanjung Malaya dan Belanda boleh menguasai Sumatera, dianggap termasuk daerah sekitar danau Toba pedalaman yang sebenarnya belum disentuh Belanda. Belanda tahun 1819 sudah berpangkalan di Padang dan selanjutnya Air Bangis. Dengan Perjanjian London , Belanda merasa mempunyai dasar memperluas ke arah utara, Natal, Barus dan Teluk Tapian Nauli. Air Bangis menjadi ibukota wilayah Angkola Mandailing. Posnya bukan lagi meneruskan pos Inggeris di Pulau Poncan Ketek, tapi langsung ke daratan, di Sibolga. Belanda membangun pelabuhan di Sibolga. Selanjutnya 1842 membentuk keresidenan baru yang disebut Keresidenan Tapanuli mencakup wilayah Angkola Mandailing, Toba, Dairi Pakpak dan pulau Nias, meski yang baru dikuasai barulah Angkola Mandailing. Keresidenan dipindahkan dari Air Bangis ke Sibolga sebagai ibukota Tapanuli. Wilayah pedalaman Toba masih gelap bagi Belanda tetapi dengan rencana akan dikuasai. Sebelum masuknya pasukan Belanda dan missi zending Jerman yang menyiarkan agama Kristen, disitulah ajang hidup masyarakat Batak Toba, di lembah-lembah dan dataran tinggi yang telah membangun sistem kemasyarakatan selama berabad-abad.

Istilah ‘Bataklanden’ digunakan Belanda sejak 1908 menunjuk wilayah yang lebih luas lagi yaitu mencakup Keresidenan Tapanuli dulu ditambah dengan Dairi Pakpak. Sejalan dengan bangkitnya nasionalisme tahun 1917, kaum pergerakan di Toba mulai memakai kata ‘Tano Batak’ yang sesungguhnya bukan nama geografis, melainkan menunjukkan identitas ‘nasional’.

Mitos Siboru Deak Parujar

Masyarakat purba selalu mempunyai cara untuk kisah-kisah untuk menjelaskan dirinya, kekuatan atau kejadian kekuatan yang luarbiasa, dewa-dewi, alamnya dan juga hubungan dunia ajang hidup dengan dirinya. Inilah makna mitos. Ia mencoba mengerti asal-usul dirinya dan menjelaskannya dalam suatu kisah yang oleh para sarjana disebut antropogoni. Kisah dewa-dewi adalah theogoni, sedang mengenai alam semestanya disebut kosmogoni. Cerita itu selalu berkait karena para dewa dan mahluk setengah dewa mencipta alam dan berhubungan dengan manusia. (Anicetus B. Sinaga,The Toba Batak High God, Trancendence and Immanence).
Dewata tertinggi bagi orang Batak ialah Mulajadi na Bolon, sumber dan pencipta segalanya. Ia berada di Banua Ginjang (dunia atas) dan menciptakan langit tujuh lapis, bulan dan bintang. Kemudian ia menciptakan burung dewa berparuh besi namanya Manuk-manuk Hulambujati yang bertelur enam, lalu menetaskannya. Tiga dewa yang lahir Bataraguru, Soripada (Balasori) dan Mangalabulan (Balabulan) menjadi tiga serangkai- Debata na Tolu (Trimurti). Tiga lainnya Raja Odap-odap, Tuan di Hurmajati dan Debata Asi-asi yang setingkat kesaktiannya dibawah. Ada lagi burung dewata Leangleang mandi yang selalu ditugaskan Mulajadi menyampaikan pesan-pesan kepada dewa-dewa lain dan ke dunia tengah. Putri Batara Guru yaitu Boru Deakparujar, pemintal ulung menciptakan Banua Tonga (dunia tengah) dari sekepal tanah. Mulajadi memanggil Boru Deak kembali ke dunia atas karena harus dikawinkan dengan Raja Odap-odap anak dari Mangalabulan, si buruk rupa. Karena lebih suka tinggal di dunia tengah dan jijik melihat rupa Odap-odap yang buruk maka terpaksa Mulajadi mengutus naga Raja Padoha sang penguasa dunia bawah. Boru Deak Parujar, setelah melalui penolakan yang penuh liku, akhirnya bersedia kawin dengan Raja Odap-odap, karena perintah Mulajadi na Bolon. Keduanya tinggal di dunia tengah, turun melalui gunung Pusuk Buhit, menetap di Sianjur Mula-mula. Merekalah yang menurunkan manusia pertama Raja Ihatmanisia dan Itammanisia seterusnya ke Si Raja Batak, leluhur orang Batak. Akan tetapi Boru Deak dan Raja Odap-odap harus kembali ke Banua Ginjang naik dari Pusuk Buhit karena dipanggil Mulajadi. Anak-anaknya ingin ikut sambil bergelantung memegang benang pintalan ibunya (‘ulos’) yang akhirnya putus. Maka tinggallah keturunan si raja Batak di kaki gunung, desa Sianjur Mula-mula. Ulos adalah hasil benang tenunan Boru Deak dan dipakai sebagai simbol hubungan ikatan yang tak pernah putus antara Boru Deak (dan dunia atas/ Mulajadi) dengan keturunannya di dunia tengah.—Ama Pardomuan