Seiring dengan hiruk pikuk era demokrasi sekarang, maka marak pengungkapan budaya lokal di daerah Sumatera Utara. Mulai dari pelaksanaan upacara-upacara bius yang telah lama dilarang, bangkitnya aliran kepercayaan parmalim yang menuntut perlakuan sama seperti agama lain, klaim marga atas suatu lahan atau hutan yang selama ini dikuasai Negara (pemerintah), pilkada, tuntutan pemekaran wilayah sampai pembentukan provinsi Tapanuli. Bagaimana kita memberi makna soal-soal diatas dari perspektip kebudayaan? Apakah sejarah lama Batak Toba mempunyai pengaruh untuk peristiwa-peristiwa diatas.?
Kalau kita masuk ke suatu kota yang belum kita kenal maka kita akan menelusuri jalan dan lorong dan mengenal satu demi satu. batak tombMungkin kita mengingat satu tempat dengan makanannya, di jalan anu ada jembatan dan dibawahnya mengalir sungai kecil. Kadang-kadang kita tersesat. Pelan-pelan terbuka peluang untuk mampu mengenal liku-liku kota atau wilayah. Meski, bisa juga sampai akhir khayat tidak mendapatkan pemahaman yang utuh. Lebih-lebih kalau daerahnya begitu luas. Tetapi dengan sebuah peta maka kita lebih mudah mengenali suatu wilayah dan tidak banyak sesat. Tulisan ini mencoba memberi semacam peta, sebelum masuknya zending dan pemerintah kolonial Belanda. Sitor Situmorang menyebut kembali istilah lama ‘Toba na Sae’ yang menunjuk wilayah-wilayah Toba Holbung, Silindung, Humbang dan Samosir, yang sama artinya dengan wilayah yang didiami orang Batak Toba dulu. Para sarjana Barat, yang diikuti pula oleh penulis kita, telah salah mengerti tentang keadaan sosial di Batak Toba. Kekeliruan dimulai dengan kisah reka-rekaan tentang orang Batak makan orang (antropofagi), suka berperang antar kampung, salah paham tentang parbaringin, dan ideologi politiknya diseputarnya, salah paham tentang datu dsb.

Sejarah asal usul Batak Toba

Sampai sekarang belum dapat dipastikan kapan mulai orang Batak Toba pertama bermukim di daerah Toba disuatu tempat yang disebut Sianjur mula-mula. Diduga orang Batak adalah termasuk ras Melayu tua yang berasal dari Hindia Belakang (didaerah Vietnam, Myanmar, Burma, Laos sekarang.). Dimana persisnya di Hindia Belakang masih teka teki. Ada usaha menelusuri asalnya ke suku Karen di Myanmar, tetapi belum mencapai hasil memuaskan karena ternyata terlalu banyak ditemukan perbedaan budayanya. Suku Karen lebih banyak kesamaan dengan suku Dayak di Kalimantan. Juga upaya menghubungkannya dengan suku Batak Palawan di Filipina akan menemukan kejanggalan. Batak Palawan adalah ras negrito yang berambut keriting dan nomadik (suka berpindah-pindah) sedang orang Toba berambut lurus dan tidak suka berpindah karena hidup dari pertanian. Bangsa Melayu tua (Batak, Toraja, Kubu dll) adalah yang pertama sekali migrasi dari Hindia Belakang, kemudian disusul bangsa Melayu muda (Melayu sekarang, Jawa, Sunda dsb) yang mendesaknya ke pedalaman.
Penelitian arkeologi sangat sedikit memberi informasi tentang nenek moyang orang Batak Toba. Di Padang Lawas, Tapanuli Selatan dijumpai reruntuhan bangunan kuno, semacam biara dengan patung-patung Budha yang diperkirakan dibangun abad 13. Tetapi dalam budaya Batak sekarang sangat sedikit kita jumpai warisan Budha dibanding pengaruh Hindu. Ada candi di Gunung Sorik Marapi, Mandailing, yang memakai huruf Sansekerta tapi berbahasa Melayu. Catatan dari dinasti Ming kira-kira tahun 1400 menyebut kota di pantai barat Sumatera ‘Pan shu rh’ dimaksud Pansur alias Barus . Dikatakan Barus sudah dikunjungi banyak pedagang Cina, Arab dan India sejak abad 10.
Beberapa penulis mencoba menyingkap dengan menelusuri melalui silsilah marga yang dipelihara oleh orang Toba. Dihitung kurang lebih orang Batak Toba sudah mencapai 20 generasi (sundut) dan setiap generasi rata-rata berusia 25 tahun maka 20 dikalikan 25 tahun adalah 500 tahun. Jadi orang-orang Batak pertama hidup pertama kira-kira 500 tahun dari sekarang yaitu sekitar abad 16 atau taruhlah abad 15. Kalau demikian halnya bagaimana menjelaskan para pedagang India, Cina, Arab pada abad sebelumnya sudah mencari kemenyan dan kamper (kapur barus) yang berasal dari pedalaman, dikumpulkan orang-orang Batak? Ini menjadi misteri yang harus dipecahkan oleh para ahli. (Selanjutnya disini…)

Ama ni Pardomuan