uningan.jpg    taganing1.jpg

Dalam suatu wawancara penulis tahun 1980an dengan almarhum Dr Liberty Manik di Yogyakarta, pencipta “Satu Nusa Satu Bangsa” musikolog jebolan Berlin itu mengisahkan betapa koleganya di Eropa takjub pada musik gondang sabangunan. Mula-mula Manik hanya memperdengarkan rekaman suara musik gondang yang sangat bergairah dan hadirin yang belum pernah mendengarnya segera berimajinasi tentang tari perang dan gerakan meloncat-loncat. Karena iramanya memang bersemangat dan tempo cepat. Tetapi ketika Manik mempertontonkan rekaman gambar dan suara dengan proyektor film maka para hadirin tercengang melihat penari tortor sangat khidmat dengan gerak lambat dan terbatas, khususnya kaum perempuan.

Manik menyumbangkan kajian studi tentang gondang dalam ritual Batak Toba (‘Einer Studienreise zur Erforschung der rituellen Gondang-Musik der Batak auf Nord Sumatra’ , diterbitkan di Hamburg) dan pernah ditugaskan Dewan Gereja-gereja Indonesia untuk menelitinya yang dimuat dalam Majalah DGI ‘Peninjau’. Ia memperbandingkan musik Barat yang diatonis dan gondang sebagai musik dengan nada pentatonis. Usaha Manik melakukan penelitian dan pendokumentasian gondang patut dihargai tinggi, karena sangat jarang yang memberi minat untuk soal itu.
Kedua, kita perlu dicatat seorang peneliti dari generasi lebih muda, Mauly Purba, menulis tesis di Monash University yang memberi kajian mendalam mengenai perubahan fungsi dan makna gondang sabangunan sehubungan dengan penyebaran agama Kristen di tanah Batak. (‘Musical and functional change in the gondang sabangunan tradition of the Protestant Toba Batak 1860s–1990s). Purba sampai sekarang berusaha keras untuk melestarikan gondang agar tidak tertelan zaman, digeser oleh perangkat musik tiup logam (brass) dan atau organ elektronik yang disebut ‘kibot’ (keyboard).

Instrumen dan Repertoar Gondang

Gondang sabangunan atau disingkat gondang dalam masyarakat Batak Toba artinya menunjuk seperangkat alat musik (instrumen) tradisional yang dipergunakan pada saat menari (manortor) dalam suatu upacara. Tetapi istilah gondang juga dipakai untuk komposisi lagu, serta jenis tarian/tortor yang dibawakan kerabat dalam upacara. Dengan demikian gondang menunjuk pada 4 pengertian :
1. instrument musik
2. komposisi dan repertoar (untaian komposisi lagu)
3. jenis tortor kerabat

Pargonsi adalah para musisi yang memainkan instrumen gondang. Instrumen gondang sabangunan disebut juga ‘parhohas na ualu’ (delapan perangkat). Angka delapan punya makna penting dalam pemahaman Batak karena merujuk pada delapan mata angin (desa na ualu). Instrumen gondang terdiri dari :
1) taganing
2) sarune
3) gordang
4) ihutan
5) oloan
6) panggora
7) doal
8) hesek

Ada lagi satu instrumen yang kadang dipakai sebagai pelengkap disebut odap.
Taganing adalah seperangkat (lima buah) gendang berbentuk silinder (membranophone) yang dipukul dengan kayu. Pemain taganing memiliki peran dan tanggung jawab istimewa karena disamping memberi ritme (aba-aba) juga memainkan melodi suatu lagu bersama dengan sarune. Dialah dirigen dan pemberi semangat semua musisi, disamping harus menguasai seluruh repertoar gondang. Gordang juga gendang yang bentuknya lebih besar yang berfungsi sebagai pelengkap taganing dalam variasi ritme. Temponya selalu cepat sehingga tidak dapat diikuti penari. Penari mengikuti ritme ogung.
Sarune merupakan instrument tiup dari kayu berlidah ganda (double reed aerophone) yang memainkan melodi suatu lagu. Pemain sarune juga istimewa karena tanggung jawab penguasaan repertoar sama dengan pemain taganing.

Alat musik oloan, ihutan, panggora dan doal adalah gong dalam berbagai ukuran. Perannya juga bersifat ritmis. Begitu juga halnya odap. Ogung oloan yang bernada rendah menyajikan bunyi dengan ritme tetap agar dituruti oleh ogung yang lain. Karena itu disebut ‘oloan’ yang artinya diikuti. Ia memimpin semua ritme ogung. Oloan disambut oleh Ogung Ihutan (=yang mengikuti) atau disebut juga ‘pangalusi’ (=jawaban). Peranan ihutan hampir sama dengan oloan tetapi dengan nada lebih tinggi Disambut lagi dengan Ogung Panggora (= yang berseru, memberi efek kejut) dan Doal yang memberi variasi ritme tambahan. Hesek (hesek) kelihatannya seperti tidak penting namun terasa kurang pas tanpa kehadirannya untuk menyempurnakan keseluruhan ritme. Dua pukulan hesek berbunyi dalam satu pukulan doal sehingga memberi efek sinkopis yang harmonis. Panggora akan berbunyi bersama-sama oloan pada pukulan kedua dan sekali ia berbarengan dengan ihutan.
Dalam pengertian repertoar, suatu rangkaian musik yang berhubungan satu dengan berikutnya, disebut ‘Si Pitu Gondang’ yang terdiri dari tujuh lagu berurutan sehubungan dengan ritual agama Batak purba. Tidak diiringi dengan tarian. Bisa dimainkan keseluruhan tanpa henti tetapi bisa dengan jeda. Beberapa jenis repertoar asli untuk ritual lama sekarang sudah sangat jarang diselenggarakan sehubungan dengan pengaruh agama Kristen. Bahkan pada awal nya para misionaris melarang pelaksanaan gondang karena dianggap membangkitkan kembali gairah agama suku. Kalau pada masa zending kekhawatiran itu mungkin beralasan karena orang Batak yang dikristenkan baru melangkah setapak kedalam agama baru dari dunia lama. Kini pada generasi kelima bahkan keenam, kecemasan semacam itu kiranya berlebihan sebab pada umumnya generasi sekarang tidak merasakan lagi aroma agama purba dan semata-mata melihatnya dari segi kesenian belaka. Gereja agaknya sudah agak melunak dan memperbolehkan dengan syarat dimulai doa oleh pendeta atau pengurus gereja. Diskursus soal teologi Kristen mengenai gondang akan dibicarakan dibagian lain.
Rangkaian ini selalu dimulai oleh yang punya hajat (‘suhut’) membuka upacara dengan meminta ‘Tua ni Gondang’ (introduksi) artinya memohon tuah dari Tuhan untuk gondang yang akan diselenggarakan. Dengan ini maka upacara dimulai secara resmi. Repertoar selalu Gondang Mula-mula yang memulai mohon restu dari Maha Pencipta dan hadirin, dengan menutup kedua telapak tangan didepan dada. Disusul kemudian Gondang Somba-somba untuk memberi hormat takzim dengan menyedekap kedua telapak tangan yang mulai terbuka. Penari berputar dan berdiri ditempat. Dibagian tengah repertoar ada Gondang Pasu-pasu memberi berkat dan restu kepada kelompok boru (pihak kerabat pengambil isteri). Dalam kelompok Pasu-pasu termasuk Gondang Sampur Marmeme untuk permohonan agar Boru diberi banyak keturunan, dan Gondang Sampur Marorot agar kelompok Boru dapat memelihara dan merawat anak-anaknya agar selalu sehat walafiat. Gondang Saudara termasuk juga pasu-pasu yang menggambarkan permohonan kepada yang Maha Kuasa untuk kemakmuran. Pada tahap akhir adalah komposisi Gondang Sitio-tio/Hasahatan (finale) menggambarkan kecerahan dan segala permohonan segera terwujud.
Repertoar asli yang antara lain memuat Gondang Mulajadi, Gondang Batara Guru, Gondang Mangalabulan dsb sangat jarang diperagakan. Mungkin akan dapat anda saksikan dalam upacara penganut agama Parmalim yang diselenggarakan pada waktu tertentu di desa Hutatinggi di Laguboti.
Semua kerabat dapat meminta gondang untuk menari misalnya ada kelompok tuan rumah disebut gondang Suhut, gondang Boru, gondang Hula-hula dan juga untuk kelompok muda-mudi diberi kesempatan untuk menari disebut Gondang Naposo.

Uning-uningan

Perlu ditambahkan bahwa dalam suatu pelaksanaan ritual lama pada umumnya hanya melibatkan orangtua meskipun ada diberi kesempatan muda-mudi berpartisipasi dengan acara Gondang Naposo. Pelaksanaan upacara bisa berhari-hari, mungkin tujuh hari. Ditengah-tengah waktu senggangnya para pemuda juga berlatih semacam ensembel disebut ‘uning-uningan’. Uning-uningan bukan termasuk ensembel untuk ritual tetapi lebih bersifat hiburan. Meskipun demikian dalam perkembangan selanjutnya disebut juga gondang yaitu Gondang Hasapi. Hasapi adalah kecapi yang memainkan melodi dalam uning-uningan. Ada juga penyanyi yang membawakan lagu-lagu kisah cinta, penderitaan, cita-cita dsb. Ensembel uning-uningan (gondang hasapi) terdiri dari alat musik :
1. hasapi (kecapi)
2. sarune getep (alat musik tiup dari kayu, lebih pendek dari sarune)
3. sulim (suling)
4. garantung (alat musik pukul dari beberapa kayu berbentuk pipih)
5. tulila
6. hesek
7. dll

Sebagai catatan penutup adalah kisah seorang tua bermarga Samosir, mantan pemain ‘opera tradisional’ Seni Ragam Indonesia (Serindo) yang seluruh hidupnya diabdikan sebagai pemain musik tradisional gondang dan uning-uningan. Ia mengeluh karena sering merasa dilecehkan pihak pengundang yang menawar upah jasa dengan harga sangat rendah dibanding dengan musik keyboard. Untuk menawar keyboard, orang Batak bersedia membayar diatas Rp 2 juta tapi untuk gondang dibayar kurang dari Rp 1 juta, malah Rp 700,000, padahal delapan pemain gondang itu seharian keringatan.! Bisa dibayangkan bahwa tanpa ada penghargaan dari orang Batak sendiri maka perlahan-lahan semua pargonsi akan beralih profesi dan punahlah gondang sabangunan itu.

smiley_010.gif Ama ni Pardomuan