Mulai tanggal 10 September sampai 16 September 2012 tengah berlangsung perhelatan akbar di Sipoholon, Tarutung. Muktamar salah satu gereja terbesar di Indonesia ini disebut ‘Sinode Godang’. Para peserta sinode adalah para pendeta dan utusan jemaat gereja yang beranggota kurang lebih 4 juta orang diagendakan membahas banyak soal, mulai dari yang penting sampai yang tidak terlalu penting. Tetapi yang paling menarik lazimnya adalah pemilihan pimpinan yang digelari Ephorus. Berbeda dengan Ephorus yang dipilih di Sipoholon, di dunia internet telah berlangsung penobatan ‘Ephorus virtual’. Ephorus virtual atau ephorus internet adalah seorang pendeta suatu jemaat HKBP yang juga aktif menjalankan fungsi kependetaan melalui jejaring sosial.

Dia seorang blogger bernama DTA. (link nya rumametmet.com ). Tulisan-tulisan DTA ramai dikunjungi para netter karena rupanya cukup menarik, hangat, tajam dan terbuka. Pengamatan saya DTA adalah satu-satunya pendeta HKBP yang memiliki blog yang terpelihara (start 2006).  Bahkan tidak mustahil mayoritas pendeta tidak memiliki e-mail alias ‘gaptek’. (Lucunya, malah ada yang setengah “bangga” mengakui dirinya ‘gaptek’, seakan-akan teknologi komunikasi tidak penting dan cukup komunikasi dari mimbar). DTA berbeda. Selain tulisan-tulisan berupa kotbah, DTA juga sajikan pengalamannya sehari-hari bersama jemaat sebagai pendeta. Tulisannya mulai dari yang lucu ringan sampai yang kritis dan tajam disajikan dengan sikap jujur. Penampilannya berjanggut dan rambut gondrong keperakan agaknya seolah ingin menegaskan dirinya tidak berada pada jalur mainstream. Tapi progresif alternatif.

Belakangan, sehabis puncak Perayaan Jubileum HKBP 150 tahun di Gelora Bung Karno, – yang menurut saya adalah anti-klimaks – DTA meluncurkan tulisan yang bikin heboh berjudul “Muba manang mago – Tawaran 8 agenda Transformasi HKBP” (download Mubamanang mago ). Judulnya “muba manang mago”, kurang lebih artinya ‘berobah atau hancur’ langsung menohok ulu hati banyak pihak. Termasuk pimpinan petahana (incumbent). Apalagi di ujung tulisannya DTA terang-terangan menyatakan bersedia dicalonkan sebagai Ephorus. ‘Ephorus virtual’ kini mau jadi ‘ephorus real’! Ini cara pencalonan yang tidak biasa. Tidak sesuai dengan ‘Aturan dan Peraturan’, kata yang lain. Ada lagi yang beralasan, DTA ‘masih terlalu muda’..sabar sedikit. Tanggapan yang cukup realistis mungkin, “Apakah DTA punya ‘investor’?.. Kalau tidak, lupakan saja”. (Ini tidak aneh karena beberapa tahun lalu, saya ketahui dalam suatu sinode salah satu gereja di Sumatera Utara, seorang bandar judi berlaku sebagai investor telah cukup mempengaruhi para peserta agar memilih seorang pimpinan tertentu, dan selanjutnya sang bandar didoakan agar selalu diberkati Tuhan dan sehat-sehat).

Delapan agenda DTA tersebut perlu kiranya disimak juga sbb :

1. Pembaharuan karakter, kompetensi, dan kesejahteraan pelayan
2. Pembaharuan kotbah dan ibadah
3. Pembaharuan sekolah minggu
4. Pembaharuan diakonia dan pekabaran injil
5. Pembaharuan hubungan gereja dan budaya Batak
6. Pembaharuan hubungan gereja dan politik
7. Pembaharuan Aturan dan sistem organisasi
8. Pembaharuan sistem keuangan dan persembahan.

Sebenarnya kedelapan agenda diatas masih bisa diringkas menjadi 2 bagian :
1. Internal : termasuk disini angka 1, 2, 3, 7 dan 8
2. Eksternal : 4, 5 dan 6.

Saya duga masalah internal apalagi agenda soal keuangan kalau mau dibahas akan cukup hangat. Dan ini merupakan soal penting, bagi pelayan dan jemaat. Hemat saya agenda 5 dan 6 pada pokoknya adalah hubungan antara gereja dan kebudayaan. Kebudayaan dalam arti seluasnya, bukan hanya budaya Batak, apalagi cuma adat istiadat Batak. Penting disini dirumuskan sikap gereja soal pluralisme. Untuk soal ini saya lihat DTA bukan termasuk aliran progresif alternatif, tapi konservatif, khas pendeta HKBP. Maka pendidikan teologi di Sekolah Tinggi Teologi HKBP juga harus benar-benar menjawab kebutuhan masa depan. Teologi tidak lagi berkisar pada Barthian.

Tentu tidak tempatnya disini membahas agenda diatas secara rinci, cuma yang mau disampaikan adalah gagasan-gagasan ini perlu untuk dibicarakan. Proses pembahasan sinode perlu diketahui jemaat, tidak hanya mengetahui hasilnya dalam pembacaan warta jemaat. Sudah saatnya warga boleh mengikuti jalannya sinode meski tidak secara langsung. Segala kritik yang membangun ataupun membongkar hendaknya diterima dengan baik. Karena kritik dan kecaman adalah pilar sejarah gereja. Gereja yang hidup selalu memperbaiki dirinya, mereformasi dirinya (Ecclesia semper per reformanda, kata Paman Martin). Setiap hari panitia bisa mendiseminasi informasi melalui internet atau jejaring sosial secara singkat.

Pemilihan Ephorus dan Sekretaris Jenderal (sebaiknya diganti dengan istilah Sekretaris Umum saja), kita harapkan berakhir dengan elegan. Jemaat berharap pemilihan berlangsung tanpa adanya intervensi kekuasaan apalagi ‘politik uang’. Jangan berujung pada mutasi-mutasi dan degradasi. Calon yang tak terpilih tidak sakit hati dan tidak disakiti hatinya dengan menempatkan pos nya jauh-jauh. Para pendeta senior yang cukup makan asam garam dalam organisasi dan jemaat, apabila masih mampu bekerja kiranya patut diberi jabatan yang pantas. (penting dipertimbangkan adanya badan penasehat ephorus). Para pemimpin terpilih harus benar-benar mampu menjawab tantangan gereja ke depan yang semakin berat. Selamat bersinode.

Post scriptum:
DTA adalah Pendeta Daniel Taruli Asi Harahap, terakhir melayani di Serpong. DTA bukan friend saya di facebook atau jejaring sosial lainnya. Saya tidak kenal, tidak pernah bertemu dengan DTA secara personal dan saya bukan ‘tim sukses’. Saya hanya anggota jemaat kecil di pinggiran kota dan tidak memegang satu jabatan gereja apapun.

Ama ni Pardomuan

  •  

    tags: ulos textile tenun batak sandra niessen

  • Dr.Sandra Niessen adalah pakar ulos Batak. Peneliti ulos yang langka. Dr.Sandra merampungkan tesis doktor di Mekkahnya studi Indonesia, Universitas Leiden.  Ayahnya adalah peneliti hortikultura yang pernah bertugas di Indonesia sebelum Perang Dunia II.  Tetapi dia semakin tertarik pada Batak dari seorang profesor di Kanada yang memberinya buku Philip L Tobing "The Toba Batak High God". Kemudian bermaksud meneliti dunia magic, shaman atau datu Batak. Topik ini berubah karena pernah diminta  seorang datu kawin dengan anaknya. Dia canggung dengan dunia laki-laki dan banting setir meneliti tekstil, ulos, dunia perempuan.

    • He looked at me, and asked in a loud voice, “Are you married?” I shook my head. “Would you like to marry my son?” Everyone around us laughed and I felt like anything but a researcher. I had just been very clearly told that I was cut out for other things than studying Batak magic and divination. I found my associations with Batak women easier, and their textiles were more accessible than the magic that had been in sharp decline since the advent of Christianity in the area. By the time my first year of fieldwork ended, I had changed my topic of research to Batak textiles. My dissertation is about texts and textiles; it merges the two themes. Textiles in Batak culture are quintessentially female.

    • During my first year of fieldwork, I joined Sitor Situmorang as he returned to his homeland after a long absence. He was exploring his past and his identity, as is evident from his subsequent writings.

    • In that volume I explore why the Batak stopped wearing their indigenous clothing, and the process by which Western and Malay-style clothing became the daily norm.

Posted from Diigo. The rest of my favorite links are here.

Pada bulan Oktober 1997 diadakan satu Seminar Adat Batak Toba di Medan.  Artikel ini adalah satu makalah yang dibawakan oleh pemikir sosial Dr.Parakitri Tahi Simbolon.  Gagasan yang disampaikan penting  dan juga menarik karena ditulis dalam bahasa Batak Toba. Hal yang sangat langka sekarang ini, makalah ilmiah ditulis dalam bahasa Batak Toba.  Ternyata bahasa Batak Toba bisa juga dipakai untuk karya ilmiah meski ada kekurangan disana sini. Terimakasih kepada Bapak Tahi Simbolon untuk disajikannya makalah disini.

————————————————————————————

BATAK TOBA:

TARBAHENSA DO ULANING MANOTAS DALAN TU ABAD XXI? – Parakitri Tahi Simbolon

Anggo na gumolap di sejarah ni Batak (Toba) ima asal-mula ni halak Batak maringan di Tano Batak. Anggo mangihuthon pamaresoon ni angka sarjana, Batak Toba do didok  songon bona parserahan ni sude Batak naasing (Angkola-Mandailing, Pardembanan, Pakpak, Simalungun, Karo). Lan na asing na taboto taringot asal-mula ni Batak, songon huta Sianjur Mulamula dohot Si Raja Batak, holan sian turi-turian (mitos) dohot tarombo (silsilah) nama. Turiturian mandok, Si Raja Batak jalo do ditompa Mulajadi Nabolon marhite Si Boru Deak Parujar di Sianjur Mulamula. Dua anakna, Guru Tatea Bulan dohot Raja Isumbaon, ima ompu ni na dua marga bolon di halak Batak, Lontung dohot Sumba. Dung pe sian nasida nadua asa adong tarombo sahat tu hita saonari. Marhite tarombo i diado, tar hira 20 sundut ma (20 x 25 taon = 500 taon) sian ompu na dua i tu hita on. Jadi, aut sura sintong tarombo i, tar hira taon 1500-an ma halak Batak mulai mian di Sianjur Mulamula.

Bahat do anggo pandohan ni angka sarjana taringot asal-mula ni halak Batak, na asing sian pandohan ni turi-turian dohot tarombo. Pandapot na tarsar baritana ima sian Robert von Heine-Geldern (“Prehistoric Research in the Netherlands Indies na di baritahon di bagasan Science and Scientists in the Netherlands Indies, 1945; hlm. 147ff). Heine-Geldern mandok, dohot piga-piga galumbang parranto, ia halak Batak marmula sian Yunan, Cina Selatan, dohot Vietnam Utara do, tar hira taon 800 SM. Saleleng i sahat tu taon 1500, halak Batak ninna manjalo pengaruh sian kebudayaan Hindu-Budha, molo so jalo sian India, ba sian Jawa marhite Minangkabau.

Aut sugari pe sintong pandapot ni angka sarjana on, tar hira so sungkup do gogo ni hatorangan on laho maningkori aek na litok tu julu. Ai so tangkas taboto tar songon dia nasida sahat tu Tano Batak si saonari, jala ala ni aha nasida buhar sian inganan nasida na parjolo i. Alai, haru pe songon i, mansai gomos do halak Batak maniop hatorangan na songon on, jala boi dohonon gabe ndang adong be hagiot mangalului hatarongan na imbaru taringot tu asal-mula i.

Sasintongna, hatorangan na imbaru na tolap mangurupi hita nunga leleng adong, ima di taon 1944, tingki terbit catatan pardalanan ni Tomé Pires na nisunting ni Armando Cortesao, The Suma Oriental of Tomé Pires: An Accounts of the East, from the Red Sea to Japan, written in Malacca and India in 1512-1515. Tomé Pires ima sahalak apoteker bangso Portugis na gabe Kepala Gudang Rempah-rempah Portugis di Malaka. Habis i gabe duta besar ma ibana di Cina. Ratusan taon catatan na i holip di perpustaan Prancis, jala tarjaha Armando Cortesao ma i di taon 1937. Dung pe terbit catatan on taon 1944 asa torang saotik tar beha rumang ni Nusantara, tarmasuk Sumatra di parmulaan ni Abad XVI.

Barita ni Tomé Pires mamungka sian Kalimantan (Borneo), Sumatra, Jawa, Nusa Tenggara, Banda, Seram, Ambon, Maluku, dohot pulo-pulo Karimun. Didok ibana, Pulo Sumatra (Camotora) bidang jala maduma. Parjolo ma dibaritahon ibana pulo Weh, naginoarna pulo-pulo Gomez (Gamispola). Sian pulo di ujung ni Aceh i, torus ma ibana mangoris-oris Selat Malaka, mangaliati Sumatra uju pastima tu Pansur (Pamchur) jonokhon tu Barus, jala sian i mulak muse tu Gamispola. Asing sian Gamispola dohot pulo-pulo na humaliangna, Tomé Pires mamilangi adong 19 harajaon (reino) dohot 11 negeri manang luat (terra) di pulo Sumatra uju i. Asing sian Gamispola dipajojor ibana ma rumang ni Harajon Aceh (Achei) dohot Biar Lambry, Pedir, Pirada, Pasai (Paçee), Batak (Bata), Aru, Arcat, Rupat, Siak (Ciac), Kampar (Campar), Tongkal (Tuncall), Indragiri (Amdargery), Capocam, Trimtall [Tongkal?], Jambi, Palembang (Palimbao), Negeri Sekampung (Çaçanpom), Negeri Tulang Bawang (Tulimbavam), Negeri Andalas (Andallos), Negeri Pariaman (Pirjaman), Negeri Tiku (Tiquo), Negeri Panchur, Negeri Barus (Baruez), Negeri Singkel (Chinqele), Negeri Meulaboh (Mancopa), Negeri Daya, Negeri Pirim [Pedir?], jala mulak muse tu Gamispola. Didok taringot rumang ni adaran sian Siak tu Jambi, sian Pariaman tu Panchur di topi pastima ni Sumatra, saluhutna i ninna tarmasuk  tu Negeri Minangkabau (Menamcabo), na tolu rajana. Raja na tolu i didok maringan dao tar tu tonga ni luat i (pedalaman).

Pires mandok bahat mas di Pulo Sumatra, dung i dua massam gota ni hau, na boi dipangan ninna jala margoar camphor, adong muse lada, sutra, haminjon, damar, situak ni loba, miak tano (pitch), balerang, hapas, hotang. Bahat muse do ninna eme, juhut, dengke (peda). Adong muse ninna marmassam miak, tuak (wine), tarmasuk ma i tampoy, na horis tu anggur Eropa. Marragam boras ni hau, songon durian, na tungmansai tabo ninna Pires. [Lapatanna, tung mansai maduma do angka luat i di tingki i].

Bahatan do ninna angka luat i nunga marugamo Islam (Moor), holan otik nama na martahan marugamo “si pele begu” (heathen). Di topi pasir uju purba ni Sumatra, sian Selat Malaka sahat tu Palembang, saluhut raja disi nunga marugamo Islam ninna, alai dung sae Palembang sahat tu Gamispola tong dope “si pele begu” ninna, songon angka raja na dingkan bagasan (pedalaman). Pires mandok jotjot do ibana mambege barita taringot hasomalan mangallang jolma di negeri “si pele begu” i, ima molo tartangkup musu nasida.

Aceh didok songon harajaon na parjolo dipareso Pires di sandok Selat Malaka bagian Sumatra. Dungi pe asa luat Lambry. Tar jurjur tu bagasan ima harajaon Biar, jadi di holang-holang ni Aceh dohot Pedir. Luhut angka luat naginoaran tongkin on tunduk ma i ninna tu Harajaon Aceh. Raja Aceh nunga maragamo Islam, jala tarbarita songon raja na tangkang manjuara di negeri na humaliang. Bangso Portugis manuhas, sipata raja Aceh olo dope ninna margapgap di laut (bajak laut). Sahali margapgap naung otik ma ninna molo marudur 30-40 “lancar” manang sampan (lanchara). Aceh ninna manggadis bahat juhut, boras, angka bohal sipanganon na asing, tuak tangkasan ni luat i. Adong muse do ninna lada, nang pe ndang sadia bahat.

Di tingki i, harajaon Pedir marmusu dope ninna maradophon Aceh. Mansai bernit do ninna parniahapan ni Pedir dibahen Aceh. Ndang sadia leleng mandapothon tingki i, harajaon na bongak dope ninna Pedir, huhut maduma sian partiga-tigaan. Bahat hian dope sian angka harajaon naung dihuasoi Aceh tunduk tu Pedir, tarmasuk muse Aeilabu, Lide, dohot Pirada. Sanga do ninna Pedir marhuaso di pintu ni Selat Malaka, margulut dohot Pasai. Harajaon Pedir torus dope martahan sahat tu taon 1510. Huta sabunganna masuk tar hira satonga liga (league manang tolu km) tu julu ni sunge. Sahat tu tingki na manurat barita i (1513) bahat dope halak sileban sian marmassam bangso mian di huta sabungan i. Nang pe dibagasan parmusuon dohot Aceh, hinabongak dohot hinaduma ni Pedir tong dope disi ninna. Naung otik ma ninna dua hopal sataon ro sian Cambay dohot Benggala tu Pedir, sada hopal sian Benua Quelim (Negeri Keling), jala sada sian Pegu. Disi dung marombus alogo laut, migor borhat muse ma ninna bahat yung dohot parau, pola tar 20 bahatna, marisi boras tu Tranggono, Kedah, dohot Barus.

Alai dung talu Malaka dibahen Portugis taon 1511, gabe gale nama partiga-tigaan ni Pedir, tarlobi duna monding sultan nasida, Muzaffar Shah. Adong dua anak tadinganna, alai metmet dope. Ala ni i margulut jabatan dohot harajaon ma angka panguaso ni Pedir. Pedir nunga mamahe hepeng. Hepeng metmet digoari ma ceitis, hepeng balga digoari muse ma drama, sian mas. Sada hepeng Portugis (cruzado) marasam ma sia drama.

Dung Pedir, ima harajaon Pasai (na targoar songon Çamotora manang Sumatra). Pasai tongon ma tutu pajogi bana tingki i (lagi naik daun), ima jalo dung dihuasoi Portugis Malaka. Uju utara ni Pasai, ima harajaon Pirada, jala tungkan daksina ima harajaon Batak (Bata).

Harajaon Pasai torus dope sahat tu topi tao uju pastima, ima Laut Hindia. Saudagar sian desa na ualu, asing ni na sian purba, paturo do tu Pasai, songon saudagar Rume [Bizantium?), Turki, Arab, Parsi, Gujarat, Keling, Benggali, Melayu,Jawa, dohot Siam. Alai molo saudagar sian purba tu Malaka do. Ala saudagar sian purba i angka parbarang na bahat ninna, 10 Pasai ndang tolap dope ninna mangalo Malaka. Bahatan pangisi ni Pasai ninna ima pinompar sampuran ni Benggali/Koling dohot halak Pasai asli.

Huta sabungan ni Pasai, ima na margoar Sumatra i, 20.000 halak pangisina ninna, jadi nunga tardok balga. Raja Pasai nunga masuk Islam 60 taon lelengna mandapothon taon 1513. Huaso ni raja nigantihonna, na marugamo si pele begu dope, suda otik-otik digotili angka saudagar na marugamo Islam. Dung ro Islam, mullop ma adat na imbaru: manang ise na barani boi do mamunu raja, asal ma maragama Islam. Molo marhasil, gabe raja ma ibana. Adat on ninna naro do sian Benggala, tingki i mangolu dope adat na songon i di bona pasogit Benggala.

***

Uju daksina ni Pasai ma harajaon Batak (Bata). Uju daksina ni harajaon Batak ma harajaon Aru. Raja ni Batak i ninna margoar ma Raja Tamiang (Tomyam), ra mangihuthon (manang diihuthon) goar ni sada sunge disi na margoar Tamiang, songon na hea dibaritahon halak Portugis naasing, ima Castanheda. Raja Tamiang gabe hela ni Raja Aru do ninna tingki i.

Halak Portugis na sada nari muse, ima Pinto, mamaritahon ia raja ni Batak i ima Raja Timur Raya goarna. Raja Tamiang manang Timur Raya on nunga marugamo Islam, alai ninna sipata olo dope ibana margapgap di laut (bajak laut). Sada sian hopal na hea digapgap raja on ima Flor de la Mar (Bunga Laut). On ma sada sian opat hopal di bagasan armada na niuluhon ni Gubernur Jenderal Portugis, Alfonso de Albuquerque sian Malaka tu Goa. Tongon tanggal 1 Desember 1511, handas ma armada i uju mandapothon Pasai. Torop do na mate, maluha, jala mago pangisi ni kapal i, jala bahat muse dibuat arta sian i, alai anggo Albuquerque malua do.

Negeri Batak mangekspor boras, parbue, tuak, si tuak ni loba, lilin, hapur barus, alai tarlobi ma miak lampu (pitch) dohot “rotan” (rotaã didok pangisi ni luat i). Tontu ndang pola longang iba molo Raja Timur Raya, raja ni Batak i, mamora jala maduma. Na begu muse do raja on ninna, ai barani do ibana marporang mangalo harajaon Pasai, gariada tahe mangalo harajaon ni simatuana, harajaon Aru. Alai, porang na jumotjot ima maralohon angka pangisi ni luat na dinghan bagasan (pedalaman). Tar songon i ma sada hatorangan na mansai arga taringot asal-mula ni halak Batak. Aha lapatan ni hatorangan on tu parsoalanta na di ginjang i?

Situntun lomo ni roha manjalahi papaga na lomak

Molo pinareso peta, harajaon Batak on boi dohonon marhapeahan ma di Langkat-Deli-Siak di topi purba ni Sumatra, tu Alas-Gayo-Simalungun di tonga-tonga, jala boi do ra i torus tu Singkil-Barus di topi pastima ni Sumatra. Molo songon i do tutu, ise ma na mian di humaliang ni Tao Toba? Molo adong otik pe hasintongan di tarombo ni Batak Toba i, ba tar di taon 1500-an ma nasida mulai mian disi, tingki ojak dope harajaon ni Batak naginonggoman ni Raja Tomyam manang Timur Raya.

Mangihuthon hatorangan na di ginjang on, gabe tubu ma tutu sungkun-sungkun bolon saonari, ise ma na mian donok ni Tao Toba i, jala boasa nasida torus margoar Halak Batak sahat tu sadarion, hape Harajaon Batak nangkin ndang adong be?

Nda tung angka nigonggoman ni Raja Tomyam (Timur Raya) nasida, manang angka pangulima na so olo mengihut gabe Islam? Manang naung jumolo do nasida maringan di humaliang ni Tao Toba ipe asa gabe Islam Harajaon Batak, jala alani i las digotap ma parsaoran nasida dohot Harajaon Batak i?

Angka tar songon on ma sungkun-sungkun na ingkon jumolo alusan, ipe asa tolap hita mengoris-oris mata ni mual tu julu. Torang ma tutu olohonon na so sungkup dope angka hatorangan ni sejarah laho mangalusi sungkun-sungkun na songon on. Alai nang pe songon i, dohot hatorangan na adong on, torang ma tutu saonari taantusi piga-piga parkaro.

Parjolo, [nunga olo ra] ndang sintong be pangantusionta na saleleng on bahasa Toba ma asal-mula parserahan ni Halak Batak saluhut. Na sumintong ra ima, martektuk-tektuk do ra rombongan ni Halak Batak na maporus sian jonokhon ni Tamiang di tingki mangalului inganan na imbaru nasida di humaliang ni Tao Toba, jadi ndang marasal sian Sianjur Mula-mula saluhut ianggo Batak.

Ra, rombongan na mamillit donokhon ni Tao Toba gabe digoari ma Halak Toba, songon i ma Simalungun, Pakpak, Karo, Silindung, Pardembanan, Sipirok, Angkola, Mandailing, dln. Tontu sampur jala marsitopotan dope ra nasida molo tarbahen, jala marhite i gabe tarpiaro nasida ma ra angka adat nang marga habatahon nahinan songon nabinoan nasida sian luat asal.

Alai, dung lam leleng, ala maol ni pardalanan, gabe ummura nama ra piga-piga rombongan margaul dohot angka halak Batak na gabe Islam di topi-topi ni laut i dohot angka halak sileban. Leleng lam leleng dung songon i, gabe lam asing nama ra paradaton dohot panghataion nasida.

Paduahon, molo sinigat sian turiturian dohot tarombo i, jalo sian Debata do ro ninna ianggo Si Raja Batak marhitehon Si Boru Deak Parujar. Lapatan ni on ima, ndang diakui nasida be asal nasida sian luat ginonggoman ni Raja Timur Raya. Gotap ma tutu partalian nasida, “bogas ni patna na sora degeon, timus ni apina na sora idaon.” Antong molo songon i, angka halak na ngilngil do huroha anggo angka Batak na “imbaru” i, angka na barani manuntun lomo ni rohana. Situntun lomo ni roha ma tutu anggo nasida, sijalahi papaga na lomak. Ndang sijalo na masa sambing ra nasida, na malo padomu diri. Angka jolma si lului dalan na imbaru do ra nasida jala sitotas nambur, na malo jala na bisuk mangadopi hagogotan.

Asa lam torang hilalaon tibas na mardua on, tar pinatudos ma jolo satongkin Halak Batak “naimbaru” on tu Halak Australia si Bontar Mata (white Australians). Pinatudos i, ala tar bahat do na sarupa di sejarah ni nasida. Rap angka halak na bali do nasida (Batak pabali diri, Australia Putih dipabali). Rap mamutus partalian do nasida sian tano asal. Batak mangasahon dolok dohot rura, Australia Putih mangasahon laut, dolok, dohot rura. Halak Australia (putih) tarpaojak ma di 26 Januari 1788. Di ari i, dipatuat ma di topi tao di holbung ni Botany Bay (New South Wales), Australia, 548 baoa dohot 188 borua. Ima Halak Australia parjolo, saluhut nasida na dipabali do sian Inggris/Irlandia songon halak hurungan (convicts). Mansai ambal do antong nasida on sian parranto Eropa parjolo tu Amerika, na bahatan angka na pantun jala parugamo (pilgrims).

Manghorhon do tutu sejarah nasida i tu partondion ni Halak Australia sahat tu sadari on. Songon sinurat ni sahalak Australia (Rob Goodfellow, Australia in Ten Easy Steps), tung mansai asing do Halak Australia sian bahatan halak di portibi on. Molo bahatan halak mamestahon ari hamonangan, ari hasangapon, dohot hinajogi ni angka ulubalang, Halak Australia mamestahon ari na sabalikna, ari hataluan. Di ari 26 Januari i, minum tuak tangkasan (grog) ma tutu angka Halak Australia huhut manjou-jouhon goar ni Ned Kelly, sahalak Australia parjolo sian Irlandia, sahalak parmise na satonga senu, marpahean kaleng na hirtaon jala mamodili halak laho paojakhon Republik Victoria. Di ari 27 April, mabuk-mabuhan do Halak Australia huhut marungkor modom sahat tu tonga ari laho mamestahon hinatalu ni sordadu nasida di parporangan Gallipoli. Jempek hata dohonon, partondion ni Halak Australia, “Aussie Battler”, ima haporseaon nasida bahasa ngilngil mula ulaon ido na ummarga jala na sumangap sian na marhasil mula ulaon. Mencoba jauh lebih berharga daripada berhasil. “Trying” is afforded more support and sympathy than “succeeding”. Halak na “gagal” jala gabe “gale” ala ni na torus marjuang mangalo na gogo, ido jolma na sangap jala na marsahala, ndang raja, manang na monang, manang na mora. To struggle establishes a “Battler’s” credentials. To fail heroically proves it.

Patoluhon, molo botul do Halak Batak (Toba) na mian di humaliang ni Tao Toba i na jolo, ima angka halak na manadinghon Harajaon Batak nigonggoman ni Raja Tomyam, holan naeng patorushon dohot padimun-dimun “habatahon” nasida, tontu sude i tarida do ra di partondion, uhum, dohot adat hasomalan nasida. Antong tar songon dia ma ulaning partondion nasida i?

Parhatian si bola timbang, parninggala si bola tali

Songon naung sinunggulan di ginjang, nunga sungkup bahat anggo pangarimangion ni sarjana taringot tu adat, uhum, dohot partondion ni Halak Batak (Toba). Alai nang pe songon i, ndang adong dope sian nasida na mangujihon i tu mula mian ni Halak Batak di humaliang ni Tao Toba. Saonari, dung tabaranihon mangado rumang ni mula mian i, ra ndang maol be padomuonta i tu angka naung taboto taringot adat, uhum, dohot partondion ni Halak Batak (Toba).

Molo tinimbang sian goar “Batak” nahinonghop nasida, gabe mura do adoon bahasa nadipiaro nasida do anggo adat, uhum, dohot partondion na pinungka ni ompu nasida tagan so gabe Islam dope harajaon Tomyam. Songon naung nirimangan ni na malo, Dalihan Na Tolu, Tondi-Sahala, dohot Debata Na Tolu, tar i ma ra anggo rimpunan ni adat, uhum, dohot haporseaon manang partondion nasida i.

Taado ma satongkin panghilalaan ni halak na manuntun lomo dohot manjalahi papaga na lomak, na maninggalhon hinabeteng ni raja nasida, songon naniahap ni Halak Batak. Tontu ndang olo be nasida mangunsande tu huaso ni raja na tinadinghon ni nasida i. Atik adong sian nasida marhagiot gabe raja, tontu tagamonna do na ingkon aloon ni donganna na maporus i do hagiot i. Tontu ndang olo be nasida marbernit songon tingki ni Raja Tomyam. Alai beha ma nasida boi mangolu rap molo ndang adong na mangarajai? Alusna, molo ndang adong raja, ba ingkon adong ma patik namangatur asa tarbahen mangolu songon sada rombongan, sada masyarakat, sada bangso.

Beha ma boi adong patik alai ndang adong sada raja na sangap, na marsahala, na marhuaso? Sungkun-sungkun na borat on dialusi Halak Batak “na imbaru” i ma tutu. Alusna, ingkon adong do patik na uli na sora mose, songon prinsip moral bersama. Tarida do i tangkas di tonggo-tonggo ni Parbaringin, ima naginoar songon patik. Didok: Parhatian si bola timbang, parninggala si bola tali; pamuro so marumbalang, parmahan so marbotahi.

Ia nidok ni tonggo-tonggo huhut na gabe patik on, ingkon boi ma nian ganup halak Batak songon hatian na sora teleng, na satimbang. Ingkon boi tigor roha nasida songon ninggala na mamola tali. Ingkon boi dimpos eme sian amporik di juma agia pe ndang marumbalang, jala dimpos dorbia di jampalan agia pe ndang marbotahi. Lapatanna, dippos ngolu ndang ala ni huaso harajaon (umbalang, botahi), alai ala ni patik (sahala) sambing. Jadi tondi (sahala ima hagogoon ni tondi na tarida) hangoluon ni Batak ima: Adil, Tigor, dohot Elek. Sian partondion nasongon ima mullop angka sahala, ima hagogoon dohot huaso laho manjalahi parngoluon na dumenggan di ganup-ganup bidang.

Patik on, tondi on, mansai tangkas tarida do di Dalihan Na Tolu. Adil (manat) maradophon dongan tubu, tigor (somba) maradophon hula-hula, jala elek maradophon gelleng. Ala ndang adong be sahalak na gabe raja, na sangap, na marsahala, torus manorus, ingkon sude nama ris gabe na sangap dohot na marsahala. Asa boi songon i, pambahenan nama andosan ni sangap dohot sahala i, ndang be nasib, ndang be tohonan (goar, arta, jabatan, pangkat). Asa tarida angka i di hangoluon siapari, tubu ma aturan adat Dalihan Na Tolu, ima na marganti-ganti ganup Halak Batak gabe dongan tubu, hulahula, manang gelleng, asa marganti-ganti jala ris dapotan sahala.

Ido ra alana umbahen tubu umpasa, sisoli-soli do adat, siadapari gogo. Jadi, prinsip Dalihan Na Tolu ima “marganti”, ndang “lean ahu asa hulean ho” (quid pro quo) songon na somal taantusi nuaeng on. Nda tung mansai uli jala bagas situtu do partondion, uhum, dohot adat ni Batak molo songon i?

Molo songon na maol ditangkup hita hinauli dohot hinabagas na i, patudos hita ma i satongkin dohot rimpunan partondion ni Jawa, misalna. Didok umpasa ni Jawa, ngluruk tanpa bala, ngalahake tanpa ngasorake (mamorang so marporangan, manaluhon so paleahon). Aut sura dibege Halak Batak na jolo i, ra dohonon nasida ma, “bah, dumenggan do unang mamorangi, agia pe so marporangan; dumenggan do unang manaluhon, agia pe ndang paleahon”. Lebih baik jangan menyerang kendati tanpa bala tentara; lebih baik jangan mengalahkan, kendati tanpa menghina.

Sun uli partondion i gabe ndang tarulahon di hangoluon siapari? Ima da tutu, ninna godangan sian hita nuaeng. Alai sasintongna, ima partondion na mangolu di bagasan pambaenan ni sude Singamangaraja. Sahala harajaonna ojak nang pe ndang adong porangan, ndang adong naposona, jala ndang dipapungu balasting. Tingki loja Singamangaraja XII di harangan ni Dairi dilelei Bolanda, marulahulak didok, “ndang ala utang ni daompung, utang ni damang, manang utanghu sandiri, umbahen hutaon na bernit on, holan ala ni tondi dohot sahala sian Mulajadi Na Bolon i do.” (Jaha buku sinurat ni Amanta Prof. Dr. W.B. Sidjabat, Ahu Si Singamangaraja, Penerbit Sinar Harapan, 1983).

Ro huaso asing: mali tondi?

Partondion songon na pinatorang di ginjang i, lam maruba ma ra angka i dung lam leleng, tarlobi dung masuk angha huaso ni halak sileban. Sian taon 1500-an tu 1820-an, tagan so masuk dope huaso ni bangso Eropa manjama Halak Batak, boi dohonon ndang bahat na boi taboto taringot parngoluon nasida. Alai nang pe songon i adong do barita sian zendeling Inggris, ima R. Burton dohot N. Ward, taon 1824, na sahat tu Rura Silindung. Barita i disurathon di “Report of a Journey into the Batak Country in the Interior of Sumatra in the year 1824” di bagasan buku, Transactions of the Royal Asiatic Society, I, 1827. Barita nasida i mandok: mansai bahat do pangisi ni rura i, jala niida lehet do parngoluon nasida. Ndang hurang sian 5.000 halak manomu-nomu nasida, sude marpangalaho na lambok jala tota (with kindness and respect).

Niarumas tutu sian hatorangan on, boi do denggan jala maduma ngolu ni Halak Batak di humaliang ni Tao Toba i, agia pe ndang adong sada raja na marsangap dohot na marhuaso manggonggomi dohot maninga (nearly stateless) nasida. On diolohon angka sarjana na mamareso Batak do, songon na nidok ni Lance Castles di bagasan disertasi nasida, The Political Life of a Sumatran Residency: Tapanuli, 1915-1940”. Disertasi on disurat taon 1972, na mamareso panghorhon ni panjajahan tu parngoluon ni Halak Batak.

Haru pe songon i, ngolu na maduma alai ndang adong sada harajaon na manggonggomi dohot maninga, sanga do huroha manghorhon teal dohot ginjang ni roha tu Halak Batak. Gabe dirimpu ganup Halak Batak ma raja diri nasida. Gabe ndang ditanda nasida be ragam-ragam ni huaso na adong di portibi on. Dirimpu nasida ma langit ni Batak i langit na tumimbo, ai so adong tudos-tudos, ndang songon naniahap ni Halak Aceh, manang Melayu, manang Minangkabau.

Sasude angka partondion na jeges nangkin, sursar ma ra ndang sadia leleng dung haroro ni R. Burton dohot N. Ward. Marmula ma i tingki porangan ni Padri mamuhar Mandailing, tar hira 1824. Raja Gadombang sian Mandaliling Godang mangido tolong tu Bolanda mangalo Padri. Masa ma porang saleleng 1830-an. Ditaluhon Bolanda ma Padri di Padang Bolak (Tuanku Tambuse) taon 1838. Sian tingki i gabe lam hot ma huaso ni Bolanda di Tano Batak (1843).

Niarumas, migor songon na mali tondi ma huroha Halak Batak mangadopi angka na masa i. Naung gabe raja par langit natumimbo songon i leleng, gabe si talu-talu nasida. Alai, ndang tarjalo Halak Batak na di daksina i huroha gabe si talu-talu. Antong beha nama akal asa unang si talu-talu? Alusna ima ra na gabe jea bolon parjolo na manoro tondi ni Halak Batak. Didok nasida ma ra, ba pinadomu ma diri da dohot angka na monang. Alani i gabe rap ma nasida dohot pamuhar i mamorangi sisolhot nasida angka Halak Batak na di utara, sahat tu Bakkara, ro di na mamunu Singamangaraja X.

Ndang holan i tahe. Bahat sian Batak daksina i lam maila gabe Batak, tarlumobi ma i na sian Mandailing. Didok nasida ma pinompar ni Iskandar Zulkarnaen do nasida, ndang be Si Raja Batak. Adat pe ndang be dipahe, jala on ditolopi Bolanda do. Sahat ro di na mandapothon hamerdekaan, jotjot do tarjadi parbadaan dohot angka Batak na sian Angkola-Sipirok-Padang Bolak maralohon na sian Mandailing, songon parkaro di Sunge Mati di Medan on taon 1922. Halak Mandailing maminsang Halak Batak Angkola-Sipirok-Padang Bolak mananom na mate nasida di Sungai Mati, ala nunga asing ninna Mandailing sian nasida. Ndang Batak be ninna anggo na marasal sian Mandailing.

Di Tano Batak utara pe, masuk ma Zending Barmen, Jerman, tar hira 1864, nasininga ni Nommensen. Di Huta Dame, di sada rura (rawa) di Silindung gabe Kristen ma piga-piga Halak Batak, alai bahatan dope ninna bohas ni parhatobanon. Diajari Nommensen ma nasida haiason (higiene), songon mangarobus aek (ai jalo minum aek mual na so pola dirobus do anggo Halak Batak na jolo), manantapi pahean (maradu martusa do pahean ni Halak Batak na jolo ai so hea ditantapi), manumpan kakus (ai bebas merdeka do najolo Halak Batak ianggo misang dohot miting). Ala ni i, sai hipas ma tutu ruas ni Nommensen tagan patumate ganup ari bahat halak di Silindung ala ni muntah-berak hinorhon bumi hangus ni Padri.

Marnida i, longang ma tutu saluhut Halak Batak di Silindung, porsea ma nasida bahasa Debata na Sumurung, Debata na Tutu ma ianggo sinomba ni Nommensen. Gabe marsiadu ma antong raja-raja Silindung gabe Kristen, songon Raja Jakobus Lumban Tobing dohot Raja Pontas Lumban Tobing. Lam porsea ma nasida tutu bahasa sipeop sahala harajaon do angka zendeling i.

Songon i balga tutu haporseaon na songon on di godangan Halak Batak Kristen, asa gabe lam dao ma tutu pangantusion nasida sian partondion nasida na parjolo i. Angka on torang do diahuhon sada anak ni Batak (Toba) sandiri, songon Andar Lumban Tobing (Das Ambt in der Batak-Kirche). Didok ibana, sahala ni zendeling i lam mansai bolon dung marborngin Gubernur Sumatra, Arriens, di jabu ni Nommensen, taon 1868 . Lam bahat ma na gabe Kristen, alai huroha sangsi do Nommensen tu pita ni hakristenon nasida i, asa gabe dipinsang ma mangulahon sakramen ni Batak, songon ari onan na opat, mamalu gondang, pesta bius, mangase taon, dohot angka adat na asing tahe.

Angka naginoaran parpudion, ima natatanda songon sakramen ni Halak Batak. Marhite angka i do tolhas partondion dohot pangantusion ni sijolo-jolo tubu tu angka pinompar nasida. Dung dipinsang Halak Batak Kristen mangulahon i, songon Halak Batak Islam di daksina, tontu lam gale ma partondion ni ompu nasida molo pinatudos tu togu ni partondion nasida tagan maporus nasida sian Harajaan Batak naginonggoman ni Raja Tomyam tu humaliang ni Tao Toba tar hira 1500-an.

Jempek hata dohonon, di daksina nang di utara, Halak Batak gabe gamang marnida angka na baru masa, gariada tahe gabe mago angka haporseaon na pinungka ni parjolo. Ndang malobihu ra molo nidok, Halak Batak i pola mali tondi.

Lam mago ma tutu partondion na jeges i, dung lam bahat angka huaso portibi dipatandahon Bolanda tu Halak Batak. Sian taon 1890, dipaojak Bolanda ma afdeeling (kabupaten) na imbaru di Tano Batak utara. Naeng dipaojak muse ma huaso partoru di pamarentaan ni Bolanda, alai na gabe partimbo di huaso na tinanda ni Halak Batak dung maporus nasida sian Raja Tomyam. Ai tingki i, holan si pungka huta do raja na tumimbo ditanda Halak Batak na di humaliang ni Tao Toba. Jadi, ingkon raja huta i ma nian na gabe raja na imbaru di toru ni Bolanda molo mangihuthon partording ni huaso Batak. Alai, songon i bahat raja huta ninna, pola 8.000 godangna, songon na niondolhon ni Lance Castles mangihuthon barita ni Residen Tapanuli, V.E. Korn (1938).

Molo songon i bahatna, tontu ndang tarsinga Bolanda be antong saluhutna i. Ima alana, tarpaksa ma Bolanda papungu piga-piga huta gabe sada hundulan, jala angka raja huta di hundulan ima mamillit sada sian nasida gabe Raja Ihutan. Ndang sadia leleng dunghon i, punguan ni huta na margoar hundulan i diuba ma gabe hampung dohot negeri. Huasa disi pe diganti ma gabe hapala hampung manang hapala negeri. Hinorhon ni i, porang ma tutu angka raja huta, ai sasude do hisapan gabe raja. Asa tung moru nian saotik guntur ni angka na gulut di raja Ihutan i, ro ma Bolanda, dibahen ma gabe raja pandua angka raja huta na gumogo marsoara dohot na ngumilngil mangalo. Alai nang pe songon i, tong nama ndang adong be dame di Tano Batak, ala torus do marguluti angka raja huta i sahat tu pinompar nasida. Dohot i lam gale ma partondion ni Dalihan Na Tolu.

Mirdong Bolanda manangani parkaro na songon i. Dung i dipaojak ma muse tohonan na ummetmet, songon hapala rodi. Marsiadu muse do Halak Batak mangido gabe hapala rodi. Pangurus ni gareja pe ndang olo hatinggalan. Dipangido nasida ma asa gabe tohonan pamarentaan hasintuaon i. Dioloi Bolanda. Ala ni angka parkaro na songon i, gabe malo ma ninna Halak Batak (Toba) manggorahon, ada haberatan, songon mura ni na marhosa nasida. Marpurun-purun ma ninna surat rekkes (rekwest di hata Bolanda), pola ninna songon timbo ni dolok-dolok ala ni bahatna. Mangihuthon barita ni Korn taon 1938, songon nanikutip ni Castles, tingki naeng paojak kepala negeri Pohan Hasundutan, masuk ma ninna 450 halaman surat rekes sian dewan adat, dohot piga-piga meter ganjang ni tarombo laho mampartahanhon calon nasida. Di Panggabean-Sitompul, ingkon diurus 71 calon kepala negeri, 57 rekes pangidoan, 10 meter tarombo, dohot 128 halaman catatan, martimbun di kantor gupernemen di Tarutung.

Di Toba taon 1917, luat na sun rundut mangihuthon kontrolir Scheffer, saotikna ma ninna 60 rekes sabulan, jala adong dope 745 parkaro na so diputus. Ganup ari Jumat dilean kontrolir do ninna tingkina laho mambege pangaluan, alai holan saotik do na boi ditangani.

Ndang pola longang be iba molo Bolanda mandok, sahit naumporsa di Halak Batak ima sahit gatal parkaro (perkaraziekte), gila sangap manang gila hormat (eigenwaan), jala mauas harajaon (haradjaonzucht). Alai apala na mansai borat, ima bahasa sasudena i ninna ala ni partondion ni Halak Batak namarandoshon sahala, asa tubu ma ninna Sahala Harajaon, Sahala Hasangapon, Sahala Hamoraon. Gabe dosa ma sahala di Halak Batak mangihuthon pangantusion ni Bolanda dohot angka sarjana sian Barat muse.

Jadi, lobi-hurang 100 taon penjajahan marhasil ma tutu manegai saluhut angka na denggan di partondion ni Halak Batak. Pola sanga sarjana ni asing, songon Lance Castles palobihu mangarimpu bahasa sude na denggan niula ni Batak ndang situtu i tubu sian tondi na pir, alai sian uas tu sahala hasangapon dohot sahala harajaon do. Ido ninna ibana singhan mabarbar ni sasude namasa di halak Batak rasi rasa sadari on. Gabe ro Vergouwen mandok, agia di angka parkaro na metmet pe, tong do halak Batak margulut ninna, ima asa didok “gulut di imput”.

Alai molo tigor iba maningkori partondion i tu julu, tarida ma tutu na so songon i sasintongna tingki di mulana paojak inganan Halak Batak di humaliang ni Tao Toba. Anggo sasintongna, manang ise na barani songon angka ompunta na parjolo, munsat tu humaliang ni Tao Toba, maninggalhon harajaan dohot hasangapon ni bangsona di jae ni Aek Sitamiang an, tontu ingkon do malo jala bisuk (cerdas dan kreatif) nasida pasaehon angka gora nasida.

Manotas dalan tu Abad XXI

Jadi taulahi ma mangandoshon: di mula na, boi dohonon, sintuntun lomo ni roha do anggo angka ompunta parjolo, na manadinghon hajogion ni Harajaon Batak di topi ni Selat Malaka, na mamungka parngoluon di humaliang Tao Toba. Sijalahi papaga na lomak do nasida, ndang ripe sijalo na masa, ndang na malo padomu diri tu na majemur. Angka jolma si lului dalan na imbaru do nasida jala sitotas nambur, na malo jala na bisuk (kreatif) mangadopi hagogotan.

Alai, di bagasan pardalanion ni sejarah, mago ma angka tibas ondeng, jala lupa ma pinompar ni Batak i tu partondion ni ompuna, ala sai songon na mali tondi nama nasida nuaeng on. Sai digulut nasida ma angka imput, songon pangulahonon ni adat i, songon angka sahala harajaon, sahala hasangapon, dohot sahala hamoraon (jabatan, pangkat, nama, harta)

Aha ma lapatan ni i? Gabe sala ma hape dapotan jabatan, pangkat, nama, harta? Ndang sala, alai gabe balik angka na denggan i di partondion ni Halak Batak (Toba) dung masuk huaso ni panjajah. Dung penjajahan i, molo di halak Batak, gabe Islam manang Kristen jotjotan do ndang ala ni na porsea manang na laho mangalului partondion na imbaru, alai laho mangain sahala harajaon, sahala hasangapon, dohot sahala hamoraon do.

Molo marsikola halak Batak jotjotan do ndang ala ni na mauas parbinotoan, alai ala naeng mangain sahala harajaon, sahala hasangapon, dohot sahala hamoraon do. Gabe pegawai negeri halak Batak jotjotan ndang ala ni naeng paojakhon paningaon na lehet, alai ala naeng mangain sahala harajaon, sahala hasangapon, dohot sahala hamoraon do.

Dos ma rumang ni halak Batak nuaeng on songon petenis na mauas situtu tu gelar juara, asa tingki martanding ibana sai tu scoreboard do matana. Beha ma boi monang petenis na songon i, agia pe mauas situtu ibana gabe juara? Ingkon gabe sitalu-talu do upa ni jolma na songon i ro di saleleng ni leleng na.

Antong molo songon i, beha nama hita, tu dia ma tondongonta, tarlobi angka pinomparta, pinompar ni Halak Batak tu joloan on? Molo tinimbang do partondion songon napinatorang ondeng, sai hira holan sada nama alusna. Ala nunga saep hita gabe sitotas nambur, ingkon nama hita torus gabe sitotas nambur tu joloan on. Adong tolu tibas na ingkon torus padimun-dimunon ni halak si totas nambur asa bolas mangolu jeges.

Parjolo, ditopot be gume na. Gume ima talenta. Jadi dikembangkan bakat pribadi gabe kemampuan na tutu. Unang diula sada ulaon hape asing tinembakna, songon gabe kepala hampung holan asa marhuaso, songon marsingkola holan asa mamora, manang songon gabe ulama manang pandita asa sangap. Kasarna, molo na bandit do bakatmu, gabe bandit tangkasan ma ho.

Paduahon, unang mabiar manjalo na ro, agia pe hansit, agia pe borat. Unang mabiar, lapatanna ingkon maretong denggan (calculated risk). Ndang adong parkaro na so sondot, alai tutu ingkon karejo karas do hita mangantusi parkaro i, dohot mangalului dalan pasaehonsa.

Patoluhon, marbahul-bahul na bolon alias berjiwa terbuka, berbelas kasih. Holan halak na tarbuka do na tolap kreatif, tabiat pokok ni si totas nambur. Marugamo pe tarbuka, margaul pe tarbuka, marpikir pe tarbuka.

Beha ma bahenon manuan dohot pabalga angka on di diri ni pinomparta? Parjolo, tapabenget ma mangaranapi saluhut partondion ni angka ompunta. Lapatan ni i, ingkon karejo karas hita mambuka sejarah ni Batak. Paduahon, unok ni partondionta, ima Patik Naopat: Parhatian si bola timbang, parninggala si bola tali; pamuro so marumbalang, parmahan so marbotahi. Unok ni uhum dohot adatta ima Dalihan Na Tolu: somba marhula-hula, manat mardongan tubu, elek marboru. Patik Naopat on dohot Dalihan Na Tolu on do na so boi morot, na so boi muba, molo naeng denggan mangolu ni Halak Batak, ai nunga i gabe dasor ni parngoluonta ratusan taon na salpu. Angka naasing i, holan sibuk dohot bungabunga do i, na tau muba na tau mumpat. Alani i, ringgas, malo, jala bisuk (kreatif) ma hita padomuhon i tu angka na masa nuaeng dohot na naeng ro. Patoluhon, saluhut portibi on nama jampalan na bidang dohot papaga na lomak di hita. Tatadinghon ma bugang dohot baro na hinorhon ni panjajahan. Tajalahi ma saluhut angka na patut di hangoluon nanaeng ro, songon pamingkirion, parbinotoan, habisuhon, dohot ugari (teknologi). Ingkon gabe na jeges do hita di ganup-ganup bidang na tapillit di ngolunta, ndang gabe na marsada (nomor wahid), alai gabe na jeges di bidang naung tapillit. Kasarna, niulahan sahali nari, molo tung gabe bandit pe, ba bandit tangkasan ma ho, na malo jala na bisuk!

****

Aek na litok tingkoran tu julu

Halak Batak Toba sandiri porsea, adong do uhum di ginjang ni adat, jala adong do haporseaon, partondion, manang falsafah di ginjang ni uhum. Haporsean i jotjot diandoshon, songon nabinahen ni amanta Panggading, Raja Pandua ni Sisoding (Simamora) tu J.C. Vergouwen (The Social Organization and the Customary Laws of the Toba Batak of Northern Sumatra) 65 taon na salpu. Disi didok, “Ditompa Debata jolma mangarajai uhum. Ditompa Debata uhum mangarajai adat”. Mangihuthon i, di atas ni adat adong do uhum, jala di atas ni uhum adong haporseaon ni jolma manang falsafah ni halak Batak Toba. Songon i ma partording ni “nilai-nilai luhur” dohot adat.

Marratus taon tagan so adong dope ilmu kebudayaan, antropologi, ompunta sijolo-jolo tubu nunga mangantusi, molo rundut hori bahenon tu tapean, molo litok aek tingkoran tu julu. Molo rundut adat tontu tingkoran ma tu uhum dohot tu haporseaon, partondion, manang falsafah i. Mangihuthon Vergouwen, na mamareso dohot bagas uhum ni halak hita, ia uhum bolon di Batak Toba ima “angka adat na pinungka dohot sahala ni omputa si jolojolo tubu”. Angka ima tutu “namartagan sopiltihon, maransimun sobolaon; adat na pinungka ni ompunta tongka pauba-ubaon”. Jadi, nangpe ndang tarpareso dope hamumullop dohot parmagodang ni angka adat na pinungka i, tangkas do sahat tu hita na umpudi anggo angka umpasa namameop lapatan ni uhum i.

Holan i tutu, mura mandok, alai ndang mura ianggo maningkori uhum di bagasan angka umpasa i. Mansai bahat angka umpasa i, alai bahat muse do angka na so tarpadomu. Nang pe uhum pinungka ni ompunta i tongka ninna paubaon, halak Batak Toba rade do hape manjalo angka parubaan mangihuthon luat. Ai adong do umpasa na mandok, “muba tano, muba duhutna; muba luat, muba uhumna.” Didok muse, “disi tano niinganhon; disi solup pinarsuhathon.” Jadi, halulumbang mamahe uhum mangihuthon angka rumang ni inganan, parpunguan, dohot horja, mambaen gabe maol tutu maningkori adatta i tu julu, tu uhum, lan muse ma tu partondion.

Tar songon i muse do rumang ni haporseaon, partondion ni halak Batak Toba, haporseaon manang falsafah na mangarajai uhum nangkiningan i. Damun dohonon alai ala marragam, ndang binoto manontuhon dia ma haporseaon manang falsafah sabungan ni uhum i. Aut sura sinungkun saonari on, dia ma na dihaporseai halak Batak Toba sian nahinan, liat portibi on (the universe) ditompa (Debata) manang ndang ditompa?

Alusna torang do tutu, ima ditompa (Debata). Alai molo sinungkun, dung ditompa (Debata) liat portibi on (the universe), tong do pe ingkon targantung tu na manompa i saluhut angka na masa di liat portibi i, manang targantung tu jolma i nama? Ra nunga mulai ndang torang be alusna.

Molo naeng paresoon alus na sintong mangihuthon turi-turian ni Batak Toba taringot panompaan ni liat portibi on, tubu ma muse hinamaol, ala marragamragam do hape turi-turian i sian luat tu luat. Nunga bahat sarjana na mangarimangi parsoalan on, alai nasida pe ndang hea dope sahat tu sabungan ni hata.

Adong dua halak Zendeling Jerman na margoar A.W. Ködding dohot Johanes Warneck. Nasida mandok, Debata ni Batak Toba, Mula Jadi Na Bolon, ima sitompa liat portibi on, alai di banua ginjangan do i maringan (transcendent). Godangan na masa di liat portibi on ndang gabe urusanna be, alai urusan ni jolma (tondi, sahala) nama, dohot urusan ni angka begu (sumangot). Mangihuthon nasida, molo songon i, tontu ndang porlu be bahat angka sakramen di parugamaon ni Batak Toba di nahinan, ima songon mangase taon, pesta bius, dln. Unang lupa hita, haporseaon na songon on tar horis do tu haporseaon ni Kristen Protestan.

Dungi ro ma Prof. Dr. Philip O. Lumban Tobing. Songon raja ni Banua Ginjang, ninna, Mulajadi Na Bolon gabe Tuan Bubi Na Bolon, songon raja ni Banua Tonga gabe Sialon Na Bolon, jala songon raja ni Banua Toru gabe Pane Na Bolon. Ibana do sitompa tano dohot langit, alai ndang mandao-dao ibana di Banua Ginjang an. Torus do Ibana sampur tu hangoluonta siapari. Saluhut na masa di portibi on ala ni Ibana do, jala angka uhum dohot adat na niulahon ni jolma pe, gabe ima songon Mulajadi Na Bolon na tarida (immanent).

Sada nari pandapot ro sian Waldemar Stöhr dohot Uskup B. Sinaga. Ya, di Banua Ginjang, ya di Portibi on. Ya, manompa portibi on, ya muse torus marpambahenan di portibi on. Debata Mula Jadi Na Bolon ni halak Toba gabe sada hasadaan do, na di banua ginjang dohot na di portibi on (well-balanced whole of God’s transcendence and immanence). Molo songon i do rumang ni parsoalanna, ba gabe tar songon na marragam ma tutu julu ni adatta i. Antong molo marragam do, beha nama bahenon maningkori aek na litok i tu julu? Aha nama na boi adoon ni roha songon na gabe haporseaon sabungan ni halak Batak Toba, falsafah na mangalehon lapatan tu uhum dohot adat na niulahon nasida?

Alusna, sahali nari nang pe samar-samar, adong do dilehon Amanta Bonar Victor Napitupulu. Di bona ni sinurat nasida didok, “Apabila kita hendak membicarakan masa yang akan datang yaitu Adat Batak dalam era globalisasi, perlu dipelajari terbelih dahulu bagaimana lahirnya Adat Batak itu dahulu kala”. Boi dohonon, naniusulhon ni Amanta Bonar Victor Napitupulu i, ima mamahe sejarah songon ugari paningkorion tu julu, laho mangantusi aha do ulaning haporseaon sabungan di halak Toba.

Sude do hita mamoto, sejarah ima saluhut angka na hea masa jala na marpanghorhon (berdampak) tu hangoluon ni sasahalak manang sapunguan. Asa tumangkas, “marpanghorhon” lapatanna angka na paojak manang manguba hasomalan, adat, uhum, dohot haporseaon. Tontu bahat do angka namasa na songon i diahap halak Batak (Toba), alai tapillit ma sada dua na umbalga songon parhohas laho mangalusi sungun-sungkunta na di ginjang nangkin. Parjolo, ima taringot tu asal-mula ni halak Batak (Toba) mian di Tano Batak (tar hira 1500-an). Na paduahon, ima di na masuk huasa sian luar manontuhon parngoluon di Tano Batak (1822-1945). Patoluhon tar hira 50 taon mardeka (1945-1997).

Sian tolu na masa on, arop roha na tau dapot annon antusan rumang ni haporseaon sabungan ni halak Toba i. Molo sintong do tutu bahasa na balga do na masa on di parngoluon ni halak Toba, ba tolu namasa on ma ra na boi goaran songon nidok ni umpasa, molo balga aekna, balga do nang dengkena, molo balga gorana balga do nang panghorhonna.

Negeri kita mengalami bencana lagi. Gempa bumi 6,8 SR mengguncang Sumatera Barat, di Padang, Padang Pariaman dan sekitarnya. Ratusan tewas dan ribuan luka-luka. Gedung dan rumah roboh. Kerugian ditaksir hampir 2 trilyun rupiah. 
Kita turut berduka cita sedalam-dalam atas musibah ini. Semoga saudara-saudara kita di Sumatera Barat diberi kekuatan dan ketabahan.

Judul : KONFLIK STATUS DAN KEKUASAAAN ORANG BATAK TOBA

Penulis : Bungaran Antonius Simanjuntak.

Penerbit : Yayasan Obor Indonesia edisi revisi (2009) ; pp : 404 hal

Urusan bertengkar agaknya sudah merupakan bagian hidup orang Batak. Konon, katanya, dalam dunia pra-kristen para zendeling dan kolonial, masyarakat purba suka berselisih antar kampung (huta), bersaing dan bahkan berperang. Lalu dikisahkan oleh para zendeling, mereka membawa agama baru, yang membawa damai. Apakah betul begitu? Kenyataan berbeda.. Justru dalam lembaga gereja yang dibawa agama Kristen itu belakangan sarat dengan kisah konflik, baik yang terbuka ataupun tertutup.

Ragam persoalan konflik orang Batak Toba itulah disoroti oleh Bungaran Antonius Simanjuntak (BAS) dalam buku yang berasal dari disertasinya di UGM tahun 1995.

Tema konflik ternyata mengalami evolusi ditengah masyarakat Batak. Zaman sebelum Kristen yang dipersoalkan adalah soal adat dan lambang-lambangnya (misal: jambar), derajat silsilah dan kepemimpinan (raja huta), warisan, batas tanah marga. Sejak masuk agama Kristen menonjol konflik bidang adat berkaitan dengan status anak tertua dari suatu leluhur. Persoalan ini belakanagn sering muncul ketika marak pembangunan tugu marga. Siapa anak tertua turunan genealogis tertentu sering dipertengkarkan. Juga derajat turunan, misalnya si A mengaku No 15 dari marga A. Ada juga konflik-konflik individual berkaitan dengan warisan.

Anehnya sejak akhir abad 19 hingga masa Orde Baru cukup menonjol justru konflik bidang keagamaan (Kristen Protestan). Masalah ini mencuat ketika sekelompok cendekiawan Kristen Batak yang sudah mengenal nasionalisme merasa tidak puas dengan gereja Batak KOnflikStatusyang dikomandani badan zending yang datang dari Eropa (Jerman). HCB menolak badan zending Jerman (RMG) tersebut dan ingin otonomi, Juga ada nuansa politik pergerakan yang menolak pemerintahan kolonial Belanda. Gerakan ini dipelopori M.H.Manullang yang mendirikan Hatopan Kristen Batak (HKB) tahun 1917. Tidak berhenti disitu konflik muncul lagi dan tahun 1927 berdiri gereja Batak baru bernama Hatopan Christen Batak (HCB, sekarang HKI). Disusul ditahun yang sama Gereja Mission Batak dan Punguan Kristen Batak.

Babak kedua adalah perpecahan dalam tubuh HKBP yang melahirkan gereja baru GKPI tahun 1964. Konflik ini bermula dari ketidakpuasan karena terjadi pemecatan sekelompok pendeta yang dilatarbelakangi perebutan kursi pimpinan (ephorus) HKBP dalam sinode. Disamping itu tokoh awam, industrialis tekemuka TD Pardede dipandang terlalu jauh mencampuri dan memperkeruh suasana.
Tahun 1987, Sekjen incumbent PM Sihombing berlaga dengan Soritua Nababan dalam perebutan jabatan Ephorus yang kemudian ternyata dimenangkan Nababan.   Tradisi Sekjen menjadi Ephorus yang mau dilanjutkan Sihombing ternyata gagal, lalu sengketa meledak. Nababan dituduh melakukan sogok/suap hingga menang. Disamping Nababan dikatakan memasukkan ajaran sesat. Nababan melakukan pembersihan kepada pendukung Sihombing di Universitas HKBP Nommensen, yang kemudian melahirkan gelombang unjuk rasa.

Kedua belah pihak mengundang pihak luar/pemerintah, lembaga asing atau tokoh-tokoh Batak yang merasa dekat dengan kekuasaan. Bahkan para jawara dan preman dilibatkan pula.

Di gereja sempalan HKBP tadi GKPI kemudian tahun 1988 terjadi lagi sengketa serius antara pimpinan (bishop) Marbun dengan pendeta resor Simpang Limun Medan Ds.Siregar. Keduanya saling tuding korupsi dan penggelapan uang gereja.

Menjadi menarik karena menurut BAS semua konflik ternyata berkaitan dengan pengejaran status dan kekuasaan. Status dan kekuasaan dapat diraih dengan kekayaan (hamoraon) yang menjadi cita-cita orang Batak disamping banyak turunan (hagabeaon) dan kehormatan (hasangapon). Hagabeon juga berhubungan dengan kekayaan karena banyaknya turunan juga melambangkan status dan kekayaan.

Menurut BAS yang meraih predikat cum laude untuk disertasi ini, faktor penting dalam kehidupan orang Batak Toba yang berhubungan langsung dengan konflik ialah
1.Marga
2.Struktur sosial dalihan na tolu (Dnt)
3.Hubungan sosial hormat (somba) kepada hula-hula; elek marboru, manat mardongan tubu
4.Adat.

Disamping ke 4 hal diatas, BAS juga menegaskan pandangan tradisionalisme dan modernisme cukup berpengaruh dalam lahirnya konflik diantara orang Batak Toba. Lalu, sikap cemburu, sombong (elat-teal-late) adalah karakter yang cukup menonjol dalam penelitian BAS.

Pertanyaan bagi kita apakah tidak ada dalam sistem sosial atau struktur sosial atau apapun namanya itu suatu jalan untuk menyelesaikan konflik?. Apakah dalam budaya Batak tidak ada sarana menyudahi konflik? Menurut Profesor Antropologi di UNM ini kehidupan orang Batak tidaklah melulu diatur dan dikendalikan proses konflik. Tadinya peran adat yang dijalankan para raja-raja cukup ampuh dalam mengatasinya tapi sekarang hal ini sudah diambil oper oleh kepala desa, camat, tetua gereja, polisi dan pengadilan. Struktur Dalihan Na Tolu dan sikap hubungan sosial sebagaimana dikatakan diatas juga sangat penting untuk penyelesaian konflik tapi juga sering perannya digeser pengadilan karena berkembangnya pemahaman baru.

Yang paling ampuh adalah peran suatu lembaga pra-Kristen, organisasi bius dalam ritual ‘Mangase Taon’ dapat yang mengharmonikan kosmos dan memperdamaikan setiap pihak yang bersengketa. Segala konflik disini harus dilupakan. Setelah masuknya Kristen, ritual Mangase Taon sudah hilang dan peran bius dalam masyarakat Batak hampir tak berbekas. Ritual Kristen Natal, Paskah, perjamuan kudus seharusnya dapat mengambil posisi tersebut tapi ternyata tidak seampuh bius.

Buku BAS ini akan mendapat tempat istimewa dikalangan pemerhati konflik Batak Toba. Pisau analisanya yang tajam dengan landasan teori yang kuat melahirkan kesimpulan ataupun gagasan yang berani yang sejauh ini sering ditutup-tutupi. Menurut saya BAS yang jadi pelopor sosiologi konflik Toba adalah salah satu pemikir Batak yang menonjol kajian akademisnya dewasa ini disamping Jansihar Aritonang di bidang teologi.

Buku ini ditutup dengan rekomendasi yang menggelitik dan akan banyak dikecam orang. Katanya, kalau dalam suatu gereja terjadi konflik maka sebaiknya salah satu kelompok bertikai mendirikan gereja baru, seperti tradisi ‘mamungka huta’.

AMA NI PARDOMUAN Sianturi

Nunga manjalo pasu-pasu parbagason, tanggal 21 Maret 2009 :

Aldo More Million Sianturi (Ranto), anak ni T.F Sianturi/br Lbn Raja
dohot oroanna
Martha Lina br Sitinjak (Martha), boruni laenami J.Sitinjak/PBR br Sinaga (sian Samosir)
di Gereja Pentakosta
Samping Makro Bekasi
Pangkalan Bambu

Jala nunga dipatupa adat di Graha Cibening, Jl.Caman Raja, Bekasi.-

Gabe jala horas.

Pesta Bona Taon 22 Februari 2009 -sejabodetabek
Gondang Mangaliat

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.