Sejumlah tokoh masyarakat Batak dari berbagai rumpun etnis sub-Batak di Sumut turut mengecam danmempertanyakan gelar ‘Raja Batak’ terhadap Syamsul Arifin SE (Bupati Langkat yang disebut-sebut sebagai salah satu kandidat calon Gubsu periode mendatang), sehingga arus protes dari masyarakat, khususnya warga Batak di daerah ini, terus mengalir dan semakin mencuat.
Tokoh masyarakat Batak Angkola Sipirok (Tapanuli Selatan), Dharma Indra Siregar Gelar Baginda Raja Gorga Pinayungan Sipirok Bagas Godang, tokoh masyarakat Batak di Dairi Drs Sabam Isodourus Sihotang MM, tokoh masyarakat Batak Tapanuli di Jakarta Ir Halomoan L.Tobing, dan tokoh masyarakat Batak Toba di Samosir Maranti L. Tobing, secara terpisah menyatakan penganugerahan gelar ‘Raja Batak’ terhadap seseorang warga Batak harus menempuh sejumlah prosedur resmi yang bernilai sakral yang selama ini masih berlaku di tengah-tengah masyarakat adat.
“Predikat dan gelar ‘Raja Batak’ itu sakral, tak terbeli oleh siapapun dan dengan cara apapun. Tak bisa asal comot atau asal tabal begitu saja melalui suatu acara seremonial, apalagi yang bersifat insidental bermisi politis. Banyak prosedur formal di lingkungan adat yang harus ditempuh. Sedangkan untuk penganugerahan gelar ‘Raja Adat’ saja sulit, apalagi untuk predikat ‘Raja Batak’ yang identik dengan istilah ‘pemimpin bangsa’ atau ‘kepala suku’,” ungkap Dharma Indra Siregar kepada pers di Medan, Kamis (25/5) kemarin.
Dia menegaskan hal itu di sela-sela acara seminar ekonomi yang dibawakan pakar dan ‘begawan’ ekonomi nasional Dr Syahrir di Hotel Polonia Medan. Hal senada juga dicetuskan SI Sihotang dan Halomoan Tobing yang juga hadir di acara seminar itu, bahwa pihak-pihak yang terlibat dalam proses ‘penabalan’ gelar ‘Raja Batak’ kepada Syamsul Arifin SE harus sama-sama berjiwa besar untuk membatalkan gelar tersebut. Selain untuk menghindari timbulnya polemik bahkan konflik psiko-sosial di kalangan masyarakat adat, juga untuk menghindari terjadi atau munculnya opini pelecehan terhadap nilai-nilai budaya tradisional di suatu daerah, khususnya budaya Batak.
Bersama SI Sihotang dan Maranti Tobing, dia kemudian menegaskan, pihak panitia yang menggagasi pemberian gelar tersebut kepada Syamsul Arifin ketika menabalkannya menjadi Raja Batak dalam satu acara yang disebut-sebut berkaitan dengan pencalonannya sebagai kandidat Gubsu periode mendatang, harus bertanggung jawab kepada segenap warga Batak. Selain hal ini sensitif, juga rawan terhadap potensi yang dikuatirkan akan memecah belah persatuan rumpun Batak di daerah ini, bahkan di muka bumi ini.
Paling tidak, ujar Ompu Ja Somalap Sipirok Bagas Godang itu, panitia atau pihak penggagas gelar kepada Syamsul Arifin itu harus terlebih dahulu datang bertanya dan sowan (baca: konsultasi) kepada kaum keturunan Raja Batak, yaitu para keturunan Isumbaon dan Tatea Bulan yang saat ini ditetapkan atau ditokohkan sebagai panutan (kultus centris). Dia mencontohkan, bila seseorang akan ditabalkan menjadi satu tokoh atau ‘raja adat’ atau ‘raja huta’ dari kalangan kaum Tatea Bulan, maka harus ‘bertanya’ dan ‘permisi’ kepada kedua keturunannya yaitu Si Raja Lontung dan Borbor. Itu berarti harus minta restu kepada para marga-marga terkait di barisan Lontung dan juga kepada para marga di barisan Borbor.
Mereka memaparkan, seseorang yang akan dinobatkan menjadi ‘raja’ di suatu ‘negeri’ atau ‘daerah’ Batak yang selama ini dikenal dengan istilah ‘bius; atau ‘huta’ (Toba/Tapanuli) atau ‘bagas godang’ (Tapsel), sejatinya harus menempuh mekanisme sakral yang secara kasat mata harus meliputi berbagai aspek kelayakan, ketokohan, dsb. Misalnya, apakah seseorang itu dinilai berjasa terhadap suatu rumpun masyarakat dan kampung halamannya, bagaimana kharismanya mulai dari lingkungan keluarga hingga warga kampung dan luar kampung, sampai sejauh mana ketokohan atau popularitasnya sebagai seorang warga adat, bagaimana penguasaannya terhadap nilai-nilai tradisi dan peradatan setempat, apa yang telah diperbuatnya terhadap warga dan kampung halaman, dsb.
“Hal yang mendasar adalah, seseorang tokoh yang mungkin akan dinobatkan jadi ‘raja’ itu harus menguasai landasan dan falsafah hidup ‘Bangso Batak’ sendiri, yaitu Dalihan Na Tolu. Dia harus kenal siapa ‘sesembahan’nya (Hula-Hula), siapa ‘sanak saudara’ (dongan tubu)-nya, dan siapa para ‘pelayan’ (anak boru)-nya,” ujar SI Sihotang serius.
Bahkan, ujar mereka, prosesi acara penganugerahan gelar ‘Raja Batak’ terhadap seseorang itu bahkan terkadang harus memperhatikan aspek ‘kultus individu’ seseorang walaupun bukan berarti memperlakukan secara berlebihan dan menentang ajaran agama. Namun, ujar mereka, mekanisme sakral itu masih harus ditempuh sebagai mana profil negeri Indonesia yang sarat dan kaya dengan instrumen seni-budaya yang harus dilestarikan oleh semua pihak.
“Artinya, harus disadari betul bahwa gelar ‘Raja Batak’ itu tunggal dan abadi, yang hanya disandang oleh Raja Sisingamangaraja. Tak ada person lain dari keturunan siapapun dan kapan pun. Semua orang Batak bisa menjadi ‘raja’ di kalangan rumpun marga atau satuan kampung (huta) nya. Tapi kalau mau jadi ‘Raja Batak’ sebagai ‘pemimpin bangsa atau suku Batak, itu mustahil. Jadi, hati-hatilah. Ini sensitif,” tegas mereka. Perlu ditambahkan, bahwa Syamsul Arifin sudah membantah dirinya dinobatkan sebagai “Raja Batak” sebagaimana disiarkan beberapa koran di Medan. (M9/d)
sumber SIB online 27 Mei 2007
http://www.hariansib.com/
February 18, 2008 at 8:23 pm
salah jika orang batak menyatakan syamsul arifin dikatakan raja orang batak. saya sendiri orang melayu tidak mengakuinya sebagai batak.
perhatikan baik-baik
March 12, 2008 at 11:34 pm
Jika saya ditanya , bahwa syamsul arifin ,SE ditabalkan menjadi “Raja Batak” saya rasa tidaklah salah bilamana dia mau menjadi orang batak,sama dengan TB Silalahi yang ditabalkan menjadi sultan deli beberapa bulan yang. Artinya kita jangan terlalu sempit mengartikan penabalan.
Kemauan Syamsul Arifin ditabalkan menjadi ” Raja Batak” itu hanyalah sebatas nama yang tidak perlu diperdebatkan oleh siapapaun.
Selain itu masih adakah raja ditanah batak ini sebagaimana Raja dijaman tempo dulu?.
March 16, 2008 at 4:49 pm
Saya kira, Syamsul Arifin terlampau gegabah dalam isu penabalan menjadi “Raja Batak”. itu disebabkan karena beliau adalah bukan orang batak jadi beliau beranggapan bahwa penabalan hanya sekedar formalitas saja, padahal itu sudah menyangkut bangsa (bangso batak) diseluruh dunia. dan tentunya itu tidaklah gampang, karena bangsa baak juga terdiri fase atau bagian tertentu karena untuk menjadi seorag raja dikalangan batak tidaklah muda, dia harus menguasi “Dalihan na Tolu” dan Tarombo (silsila) yang menyangkut bangsa (bangso batak).
March 16, 2008 at 4:55 pm
Saya kira, Syamsul Arifin terlampau gegabah dalam isu penabalan menjadi “Raja Batak”. itu disebabkan karena beliau adalah bukan orang batak jadi beliau beranggapan bahwa penabalan hanya sekedar formalitas saja, padahal itu sudah menyangkut bangsa (bangso batak) diseluruh dunia. dan tentunya itu tidaklah gampang, karena bangsa batak juga terdiri dari fase atau bagian tertentu karena untuk menjadi seorag raja dikalangan batak tidaklah muda, dia harus menguasi “Dalihan na Tolu” dan Tarombo (silsila) yang menyangkut bangsa (bangso batak).
March 21, 2008 at 10:16 am
saya aja orang batak tidak berani mengaku raja batak, jadi bagaimana mungkin ada orang jawa mengaku rajabatak.hal yang tidak logis bukan….lebih baik orang jawa mengaku raja jawa hal terse3but manih logis. thanks
March 25, 2008 at 12:31 pm
Jadilah apa adanya, jika kita Batak jadi lah Batak dan jika Jawa jadilah Jawa, begitu juga dengan suku-suku lainnya. Saya suku Batak Mandailing dan saya bangga atas suku saya.. dan saya hanya mengakui RAJA BATAK itu hanya SISINGAMANGARAJA. HORAS SUDENA….
April 1, 2008 at 3:57 pm
Janganlah, menjadi orang batak, disaat waktu tertentu, kenapa waktu ada pemilihan cagub baru terpikir olehnya jadi Raja Batak. itu sama dengan bernuansa politik,agar orang batak memilihnya jadi gubernur Sumut. justru karena pernyataanya itu membuat orang batak tidak simpati kepadanya.
April 11, 2008 at 11:56 am
Kalau TB Silalahi jadi Sultan Deli boleh?? kalau Syamsul yang menjadi ketua masyarakat melayu pesisir yang serumpun dengan Pasaribu tidak boleh??? mana undang-undangnya??? Siapa yang berhak, Batak mana??? Batak yang itu atau yang ono??? Orang Batak tidak sesempit dan sekerdir itu cara pemikirannya. Ingat pepatah Batak yang pragmatis: ” Na Banggam Do Si Panggadison”
April 17, 2008 at 5:19 pm
semua setuju raja batak itu adalah raja sisingamangaraja. HATI-HATI bung samsul terserah gelarmu apa cagubsu atau yang lain tapi jangan ambil gelar nenek moyangKU.PADAM KAU NANTI
April 17, 2008 at 5:26 pm
NGAK PERDULI AKU tb silalahi atau tb apaannn dengan sultan deli, uda kau hina tanah kelahiranku,gara2 kau mau jadi gubsu kau pake2 gelar raja batak. ngak iklas aku bung samsul, harus minta maaf kau ke public, atau mendapat kualat kau nanti. asshole
July 29, 2008 at 9:12 am
Saya rasa sah-sah saja seorang yang di Hormati di Tabalkan Si Raja Batak…… (Opiniku).. Masalah yang berkembang di Masyarakat adalah seorang Syamsul yang Sekarang sudah menjadi Gubernur… adalah orang yang kurang layak mandapatkannya.. Kenapa…… silahkan tanya pada burung disana…. Dan memang orang Batak tidak akan sembarangan mejadikan siapapun menjadi Raja Batak… karena terkesan mistis.. Beda mungkin kalau Sultan, lebih kearah penguasa…
Mungkin ini bedanya, tapi ya sudahlah.. Orang Batak yang menabalkannya demikianpun rasanya hanya untuk kepentingan Politis, tidak lebih pada sikap negarawan yang siap menjadi pelindung masyarakat miskin…… seperti sikap seorang Raja Batak
Horas… Peace Be Upon You All,.
August 25, 2008 at 4:27 pm
Ini aneh dan gampangnya di batak khususnya toba: semua bisa jadi raja. Raja dongan tubu, raja ni hula-hula. Semua raja. Kalau orang batak angkat syamsul jadi raja gak apa-apa: toh hanya sepintas itu. Dia gak punya perangkat apapun berupa wewenang, angkatan p[erang atau apapun namanya yang mendukung dia menjadi raja. Cuma di ulosi, baru makan-makan baru per pepatah-pepitih. Jadilah raja: gampang kok. Jadi gak usahlah dipersoalkan apalagi medan khususnya, sumatera utara umumnya sangat kaya dengan simbol-simbol murahan seperti itu.
September 2, 2008 at 11:59 am
Memang banyak gelar sekarang dijual secara murahan.
September 29, 2008 at 5:35 pm
horas..
sattabi ma ahu di hamu forum..
nunga bei..tarida do sada haulion ni Raja..
holan tikki do na paboaon ise do Raja Batak..
ndang pola gabe ribut alani i las gabe sada roha ma hita halak batak..
horas..
dos roha di joloni tuhani
October 26, 2008 at 5:50 pm
hmmmm…….rrrrrgggggggghhhhhhhhh
October 30, 2008 at 12:55 pm
yah…itu dia masalahnya…. klo syamsul oke2 aja.. gak nolak. malah dia senang… TAPI yang diaslahkan adalah orang tua kita( sesepuh batak ) yang memberikan gelar itu…siapa mereka…??knp diberi? apa memang pemberian gelar itu hanya sebatas formal aja? atau bagaimana klo mereka yang memberi tiu sudah ada unsur politik?? apakah itu suatu pelangaran etika di lingkungan bangso batak?