mask

Ungkapan orang Batak makan orang dulu sering diucapkan untuk mengejek. “Batak berekor” mungkin juga berkaitan dengannya, karena mamalia dan karnivora yang makan daging ternyata berekor! Anehnya, orang Batak sendiri agaknya tidak merasa terhina dengan ejekan itu, malah mengambil manfaat dan mempergunakannya untuk menakut-nakuti. Betulkah orang Batak makan daging manusia, kanibal dan antropofagi ?? Darimana asal usul ungkapan “Orang Batak makan orang ?”

Mari kita telusuri. Sampai saat ini catatan yang paling tua yang bisa kita temukan adalah tulisan William Marsden dalam buku History of Sumatra. Marsden menulis berdasarkan catatan yang dibuat oleh Gilles Holloway, residen penguasa Inggris yang berpangkalan di pulau Poncan Ketek tidak jauh dari Sibolga sekarang. Tahun 1772 Holloway dan seorang ahli botani Charles Miller melakukan perjalanan ke daerah pedalaman, yang mereka sebut “Batta Country” (Negeri Batak). Mereka ingin mencari kayumanis dan meneliti geografi. Setelah perjalanan menyusuri sungai Pinang Sori ke hulu mereka tiba di suatu desa dan disambut baik oleh raja setempat. Rombongan pendatang dijamu oleh tetua dan warga.
Dicatat Miller “…in the sapiyau (sopo = lumbung padi) in which raja receives stranger we saw a man’s skull hang up, which he told us was hung there as a trophy, it being the skull of an enemy they had taken prisoner, whose body (according to the custom of the Battas) they had eaten about two months before…” Tengkorak yang dilihat Miller digantung di ‘sopo’ adalah tengkorak musuh yang dibunuh. Tetapi pemandu yang menemani Miller menambahkan bumbu bahwa dagingnya sudah dimakan dua bulan lalu. Dia mau menakut-nakuti Miller dan rombongan. Selanjutnya cerita Miller ini ditambah-tambahi lagi oleh para penulis Barat kemudian.
Tahun 1834 Munson dan Lyman, dua misionaris Amerika tewas dibunuh di cegat penduduk di Lobu Pining, Silindung. Peristiwa ini terjadi karena ada ke salah-pahaman. Seorang ibu secara tidak sengaja tertembak oleh pengiring dalam rombongan. Penduduk lalu mencegat dan membalas. Dalam perjalanan sebelumnya kedua misionaris selalu disambut ramah dan di jamu disetiap kampung. Tetapi oleh Belanda, yang sedang merencanakan ekspansi ke tanah Batak memberi banyak bumbu cerita yang menyeramkan.
Seorang eksentrik ahli bahasa, Van der Tuuk, diutus oleh Perkumpulan Alkitab Belanda ke tanah Batak untuk mempelajari bahasa Batak. Posnya ada di Barus. Tahun 1853 dia berhasil masuk ke jantung tanah Batak – ke Bakkara – pusat kekuasaan lembaga Singamangaraja. Cuma hanya beberapa hari tinggal di Bakkara karena warga mulai mecurigai tindak tanduknya. Warga mengusirnya. Van der Tuuk membuat lagi catatan perjalanan dan mengatakan “nyaris dimakan” penduduk. Hal yang lazim, untuk menunjukkan keberaniannya kepada badan zending.
Bahan-bahan diatas disebarluaskan sedemikian rupa. Tujuannya untuk dipakai sebagai pembenaran ekspansi. Pemerintah kolonial dan badan zending punya landasan kuat untuk segera memulai pekerjaan “menyebarkan peradaban” dan “mempertobatkan” orang Batak. Maka meluas cerita orang Batak makan orang. (ama pardomuan)

About these ads