March 2007


Seiring dengan hiruk pikuk era demokrasi sekarang, maka marak pengungkapan budaya lokal di daerah Sumatera Utara. Mulai dari pelaksanaan upacara-upacara bius yang telah lama dilarang, bangkitnya aliran kepercayaan parmalim yang menuntut perlakuan sama seperti agama lain, klaim marga atas suatu lahan atau hutan yang selama ini dikuasai Negara (pemerintah), pilkada, tuntutan pemekaran wilayah sampai pembentukan provinsi Tapanuli. Bagaimana kita memberi makna soal-soal diatas dari perspektip kebudayaan? Apakah sejarah lama Batak Toba mempunyai pengaruh untuk peristiwa-peristiwa diatas.?
Kalau kita masuk ke suatu kota yang belum kita kenal maka kita akan menelusuri jalan dan lorong dan mengenal satu demi satu. batak tombMungkin kita mengingat satu tempat dengan makanannya, di jalan anu ada jembatan dan dibawahnya mengalir sungai kecil. Kadang-kadang kita tersesat. Pelan-pelan terbuka peluang untuk mampu mengenal liku-liku kota atau wilayah. Meski, bisa juga sampai akhir khayat tidak mendapatkan pemahaman yang utuh. Lebih-lebih kalau daerahnya begitu luas. Tetapi dengan sebuah peta maka kita lebih mudah mengenali suatu wilayah dan tidak banyak sesat. Tulisan ini mencoba memberi semacam peta, sebelum masuknya zending dan pemerintah kolonial Belanda. Sitor Situmorang menyebut kembali istilah lama ‘Toba na Sae’ yang menunjuk wilayah-wilayah Toba Holbung, Silindung, Humbang dan Samosir, yang sama artinya dengan wilayah yang didiami orang Batak Toba dulu. Para sarjana Barat, yang diikuti pula oleh penulis kita, telah salah mengerti tentang keadaan sosial di Batak Toba. Kekeliruan dimulai dengan kisah reka-rekaan tentang orang Batak makan orang (antropofagi), suka berperang antar kampung, salah paham tentang parbaringin, dan ideologi politiknya diseputarnya, salah paham tentang datu dsb.

Sejarah asal usul Batak Toba

Sampai sekarang belum dapat dipastikan kapan mulai orang Batak Toba pertama bermukim di daerah Toba disuatu tempat yang disebut Sianjur mula-mula. Diduga orang Batak adalah termasuk ras Melayu tua yang berasal dari Hindia Belakang (didaerah Vietnam, Myanmar, Burma, Laos sekarang.). Dimana persisnya di Hindia Belakang masih teka teki. Ada usaha menelusuri asalnya ke suku Karen di Myanmar, tetapi belum mencapai hasil memuaskan karena ternyata terlalu banyak ditemukan perbedaan budayanya. Suku Karen lebih banyak kesamaan dengan suku Dayak di Kalimantan. Juga upaya menghubungkannya dengan suku Batak Palawan di Filipina akan menemukan kejanggalan. Batak Palawan adalah ras negrito yang berambut keriting dan nomadik (suka berpindah-pindah) sedang orang Toba berambut lurus dan tidak suka berpindah karena hidup dari pertanian. Bangsa Melayu tua (Batak, Toraja, Kubu dll) adalah yang pertama sekali migrasi dari Hindia Belakang, kemudian disusul bangsa Melayu muda (Melayu sekarang, Jawa, Sunda dsb) yang mendesaknya ke pedalaman.
Penelitian arkeologi sangat sedikit memberi informasi tentang nenek moyang orang Batak Toba. Di Padang Lawas, Tapanuli Selatan dijumpai reruntuhan bangunan kuno, semacam biara dengan patung-patung Budha yang diperkirakan dibangun abad 13. Tetapi dalam budaya Batak sekarang sangat sedikit kita jumpai warisan Budha dibanding pengaruh Hindu. Ada candi di Gunung Sorik Marapi, Mandailing, yang memakai huruf Sansekerta tapi berbahasa Melayu. Catatan dari dinasti Ming kira-kira tahun 1400 menyebut kota di pantai barat Sumatera ‘Pan shu rh’ dimaksud Pansur alias Barus . Dikatakan Barus sudah dikunjungi banyak pedagang Cina, Arab dan India sejak abad 10.
Beberapa penulis mencoba menyingkap dengan menelusuri melalui silsilah marga yang dipelihara oleh orang Toba. Dihitung kurang lebih orang Batak Toba sudah mencapai 20 generasi (sundut) dan setiap generasi rata-rata berusia 25 tahun maka 20 dikalikan 25 tahun adalah 500 tahun. Jadi orang-orang Batak pertama hidup pertama kira-kira 500 tahun dari sekarang yaitu sekitar abad 16 atau taruhlah abad 15. Kalau demikian halnya bagaimana menjelaskan para pedagang India, Cina, Arab pada abad sebelumnya sudah mencari kemenyan dan kamper (kapur barus) yang berasal dari pedalaman, dikumpulkan orang-orang Batak? Ini menjadi misteri yang harus dipecahkan oleh para ahli. (Selanjutnya disini…)

Ama ni Pardomuan

flower27.gif

Gusraman Simatupang, ST
dohot oroanna
Elisabeth Melinda br Pakpahan, SE

Pamasu-masuon :
Ari/tanggal : Sabtu 7 April 2007
Inganan        : HKBP Cibinong, Jl.RH Lukman 45,Cibinong -Bogor

Ulaon adat pesta unjuk :
Gedung Pertemuan SEJAHTERA, Jl.Raya Pondok Gede 56,
Jakarta Timur

Hami na manggokkon :
1.Salmon Simatupang /R.br Manurung
2.Drs.Saor Simatupang /br Pasaribu (A.Weizman)
3.Benny Simatupang,SE / br Sitorus, SH (A.Tiurma)
4.Ny.Simatupang br Manurung (Op si Erick boru)

Bupati Humbang hasundutan   Maddin Sihombing  pada penampilan “gondang sabangunan” dan jamuan makan malam peserta CCA (Christian Conference of Asia) si Hotel Danau Cottage Parapat, Minggu malam (4/3) mengatakan bahwa kerukunan antar umat beragama di Kabupaten Humbang Hasundutan sangat kondusif. Hal itu diungkapkan Maddin Sihombing dihadapan peserta CCA usai jamuan makan malam dan pegelaran “gondang sabangunan” serta lagu-lagu batak. Peserta CCA terlihat gembira dan terharu melihat penampilan pegelaran seni dari Humbahas, apalagi dengan hadirnya seruling maut yang dibawakan Martogi Sitohang yang bisa “menghipnotis” peserta yang hadir.
Maddin menjelaskan kerukunan umat beragama terjaga karena masyarakat Humbahas selalu berpegang kepada falsafah “Dalihan Na Tolu” (The Three Concept) yaitu Manat Mardongan Tubu, Elek Marboru dan Somba Marhula-hula”. Dimana dengan falsafah ini semua pihak mempunyai fungsi dan peranan masing-masing baik dalam kegiatan adat maupun secara demokratis untuk kepentingan bersama karena semua pihak memiliki hak bicara baik sebagai Dongan Tubu, Boru maupun Hula-hula.
Maddin juga memaparkan potensi pariwisata Humbahas tersebar dibeberapa kecamatan namun secara umum wisata terpusat di Baktiraja, Parlilitan dan Paranginan. Potensi tersebut meliputi wisata alam, sejarah atau budaya dan Panorama alam Pulau Simamora Danau Toba bila dilihat langsung dari objek wisata Sipinsur Desa Pearung Kecamatan Paranginan. Makan dan sejarah perjuangan Pahlawan Nasional dari Batak Raja Sisingamangaraja XII di Baktiraja. Kepada peserta CCA diinformasikan bahwa mengenang 100 tahun wafatnya Sisngamangaraja akan diperingati di Belanda.
Turut hadir dari Humbahas, Wakil Bupati  Marganti Manullang, Kapolres AKBP GP Hutajulu , anggota DPRD Pdt Esra Sinaga dll. Kabag Kesra Humbahas  Sihombing , Rabu (7/3) mengatakan kepada SIB bahwa pagelaran seni yang ditampilkan Humbahas yaitu “gondang sabangunan”, tari somba, tari mula-mula termasuk tari cawan dan lainnya yang dipandu Saitan Sihombing.
Pengamatan SIB di Parapat, saat pagelaran seni asal Humbahas ditampilkan beberapa peserta CCA ikut bergoyang dan manortor diantaranya Sekretaris Jenderal CCA Prawate Kid An dari Chiangmay Thailand, Presiden Dewan Gereja se-Dunia Pdt DR SAE Nababan, Pdt Langsung Sitorus STh dan lainnya.
Dikatakan bahwa Kabupaten Humbahas mengadakan pameran di Parapat sebagai ajang promosi komoditi unggulan dari Humbahas. Potensi yang dipamerkan yaitu madu asli Parlilitan, kayu olahan, kemenyan, kopi lintong, jeruk, salak Pakkat, anyaman rotan dari Tarabintang, batu bercampur emas dari Dolok Pinapan, batu gamping yang telah diolah dari Dolok Margu, berbagai macam rotan, keripik pisang, kacang garing gurih dan enak merk Humbangta dan lainnya. Pameran tersebut sudah dikunjungai peserta CCA dan tampak tertarik melihat produk-produk dari Humbahas. Dalam kesempatan itu juga, kacang garing Humbangta juga dibagi-bagikan kepada peserta CCA sebagai ajang promosi. SIB online 8 maret 07.

Next Page »